Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Moch S. Hendrowijono
Pengamat Telekomunikasi

Mantan wartawan Kompas yang mengikuti perkembangan dunia transportasi dan telekomunikasi.

kolom

Merger XL Axiata-Smartfren, Siapa Berkuasa?

Kompas.com - 30/04/2024, 16:03 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KABAR – masih kabur – soal merger (penggabungan) dua operator, XL Axiata dan Smartfren Telecom (Fren) silih berganti muncul di media. Semua masih sekadar “katanya”, “kabarnya”, dan “menurut perkiraan”.

Tidak ada satu pun petinggi kedua operator yang bisa konfirmasi akan terjadinya merger. Hanya bedanya, manajemen XL Axiata dari presiden direktur hingga pejabat selevel hanya berani mengatakan bahwa merger bukan domain mereka, kewenangan ada di pemegang saham.

Ketika ditanya apakah antara dua entitas tadi sudah ada due dilligence (informasi tentang gambaran kondisi suatu perusahaan), di satu pertemuan dengan media, Presdir dan CEO XL Axiata Dian Siswarini bilang: “Jangankan due dilligence, hilal saja belum”.

Hilal, satu istilah dalam bahasa Arab yang menyebutkan tanda-tanda awalnya satu bulan pada hitungan tahun Hijriah. Artinya, belum ada tanda apa-apa dari pemegang saham PT XL Axiata, Kelompok Axiata Malaysia.

Namun dari pihak Smartfren, informasi cenderung memberi “kepastian” merger akan terjadi. Bahkan mereka ingin kalau bisa secepatnya.

Kalangan media saja yang justru memberi “kepastian”, tidak jarang dibumbui dengan besaran transaksi, “menurut sumber yang tidak mau disebut namanya”.

Sementara Presdir Smartfren sekaligus perwakilan Sinar Mas, Merza Fachys, mengaku belum memiliki informasi resmi untuk dibagikan.

Merger sejatinya akan menjadi peristiwa besar di industri telko, diwarnai transaksi puluhan triliun rupiah.

Di sisi lain pemerintah menilai merger memang perlu untuk industri yang saat ini diperebutkan empat pemain, Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, XL Axiata dan Smartfren.

Hemat biaya

Menurut Menteri Kominfo Budi Ari Setiadi, kalau bisa dikurangi jumlahnya cukup menjadi tiga saja. Alasannya, tiga operator membuat persaingan terjadi lebih sehat karena industri jadi efisien, masyarakat pun mempunyai cukup pilihan.

Industri efisien jika jumlah operator lebih sedikit, antara lain dari biaya pembelian teknologi – yang dibayar pakai uang asing – tidak terjadi duplikasi.

Keadaan sekarang, biaya modal teknologi berlipat kali lebih mahal karena tiap operator membeli barang yang sama.

Dua operator merger jadinya menghemat biaya modal 50 persen, bisa memperluas jaringan tanpa melakukan pembelian BTS (base transceiver station) dan tower baru.

Mereka tinggal merelokasi tower yang berdekatan, sekadar menambah modul spektrum yang dibutuhkan untuk memperkaya isi BTS.

Dalam kasus mergernya Indosat dan Hutchison Three, contohnya, kapasitas BTS bertambah karena merger menambah pemilikan spektrum.

Halaman Berikutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com