Pencurian Pulsa Baru Jadi Perhatian Kadin

Kompas.com - 10/10/2011, 13:43 WIB
|
EditorRobert Adhi Ksp

JAKARTA, KOMPAS.com — Maraknya pemberitaan perihal kasus-kasus penipuan dan pencurian pulsa dengan menggunakan media SMS (short message service) yang banyak dilakukan orang tidak bertanggung jawab dikhawatirkan merugikan banyak pihak yang dengan resmi menggunakan media SMS sebagai sarana komunikasi, serta berdampak mematikan industri kreatif konten dan aplikasi Tanah Air.

Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo Bambang Sulisto di Jakarta, Senin (10/10/2011), mengatakan turut prihatin dengan maraknya pemberitaan di media massa. Kadin bersama IMOCA dan ATSI bekerja sama  merumuskan solusi dalam menjawab polemik ini demi melindungi konsumen dan menjaga kelangsungan hidup industri konten dan aplikasi tegas Suryo. Kadin Indonesia akan terus memantau perkembangan dari kasus ini.

Komite Tetap Perangkat Pendukung Aplikasi dan Konten dibawah Wakil Ketua Umum bidang Telekomunikasi, Teknologi Informasi Penyiaran dan RISTEK Kadin Indonesia bersama dengan Asosiasi resmi di bawah naungan Kadin, IMOCA (Indonesian Mobile and Online Content Association) dan ATSI (Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia) merasa perlu meluruskan pemberitaan yang tengah beredar di tengah masyarakat perihal penipuan lewat media SMS.

Mereka juga merasa perlu untuk membuat klarifikasi agar semua pihak bisa menerima informasi yang berimbang, tanpa harus merugikan industri kreatif konten dan aplikasi yang tengah berkembang dan dapat juga melindungi semua elemen masyarakat yang merasa dirugikan maupun yang membutuhkan sarana tersebut.

Ada tiga kategori SMS yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan dan dituduh telah merugikan pengguna jasa telekomunikasi seluler

.Pertama, yaitu SMS Mama Minta Pulsa. SMS seperti ini umumnya berisi Ini mama lagi di kantor polisi, mama pake HP teman. Tolong kirimin mama pulsa 20ribu dong ke nomor 08xxxxxxxx, cepet yah... penting banget. SMS ini dikirim ke banyak nomor (broadcast SMS) oleh pihak yang tidak terkait dengan penyelenggara jasa telekomunikasi maupun konten. Ini adalah salah satu contoh penipuan via SMS yang tengah marak beredar di masyarakat.

Kategori kedua adalah SMS KTA Kredit Tanpa Agunan. SMS ini juga dikirim oleh pihak yang tidak terkait dengan pihak penyelenggara telekomunikasi dan konten. Menurut ATSI, SMS seperti ini bukanlah penipuan, melainkan SMS marketing yang dikirimkan oleh pihak yang ingin menawarkan fasilitas kredit tanpa agunan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sedangkan, kategori terakhir adalah SMS konten premium yang merupakan kerja sama resmi antara pihak penyelenggara telekomunikasi dan konten. Layanan ini dilaksanakan antara kedua pihak yang terikat dengan PKS (Perjanjian Kerja Sama) yang memiliki pasal-pasal yang antara lain menyangkut hak dan kewajiban para pihak. Dalam pasal-pasal tersebut jelas tidak tertera adanya policy mengambil pulsa dengan cara menipu atau mencuri.

Pihak ATSI dan IMOCA mengutarakan bahwa layanan SMS konten premium merupakan layanan nilai tambah yang diberikan hanya kepada pelanggan yang telah setuju untuk membeli konten atau layanan yang dimaksud atau yang disebut dengan istilah opt-in.

Secara teknis tidak dimungkinkan adanya pemotongan pulsa pelanggan tanpa adanya permintaan pelanggan atas konten tersebut. Namun perlu diinformasikan bahwa adanya keluhan dari masyarakat karena mereka merasa tidak pernah melakukan registrasi berlangganan namun dengan mengikuti instruksi yang mereka terima, otomatis mereka berlangganan dan setiap menerima SMS berisi konten, pulsa mereka berkurang.

Untuk menyikapi hal ini, ATSI dan IMOCA menyadari dan setuju untuk meningkatkan upaya sosialiasi dan edukasi kepada pelanggan secara terus menerus agar pelanggan tidak merasa terjebak ketika mereka melakukan proses opt-in. ATSI dan IMOCA juga telah memperbaiki prosedur operasional untuk menanggapi keluhan pelanggan (customer care) dan juga telah membenahi sistem teknis dan info cara mengakses layanan dan cara menghentikan layanan. Upaya edukasi bagi para pelanggan untuk melindungi mereka dari informasi yang keliru dari pihak yang tidak bertanggungjawab saat ini sedang dalam proses; demikian pula sosialisasi dari kedua belah pihak untuk memberikan akses informasi kepada siapa masyarakat dapat menyampaikan keluhannya ke pihak yang berkepentingan.

Kedua asosiasi ini menyetujui pihak Pemerintah, YLKI, BRTI, para operator seluler serta penyedia konten harus berperan aktif untuk melindungi konsumen. Dalam melakukan tugas ini, mereka mengimbau agar semua pihak dapat bersikap netral dan mendalami duduk permasalahannya sebelum mengeluarkan pernyataan dan tindakan.

Industri konten digital ini adalah salah satu industri yang cukup mendapat perhatian besar bagi Kadin, karena melibatkan banyak industri lain seperti industri musik, game, dan entertainment.

Industri ini banyak melibatkan tenaga-tenaga kreatif muda anak bangsa, di mana kreatifitas mereka tidak kalah bersaing dengan negara lain. Berbeda dengan nasib industri musik di luar negeri, industri musik tanah air bahkan tumbuh karena adanya layanan konten Ringback Tone atau kerap disebut RBT. 

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.