Pasca-akuisisi, Pengguna WhatsApp Takut "Diintip"

Kompas.com - 21/02/2014, 11:23 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.
|
EditorWicak Hidayat

KOMPAS.com - Kabar akuisisi WhatsApp oleh Facebook pada Rabu (19/2/2014) memang mengejutkan banyak penggunanya. Bukan hanya dari nilai transaksinya saja yang mencapai rekor Rp 223 triliun, namun juga menyangkut masa depan keamanan pengguna WhatsApp.

Selain khawatir akan adanya iklan, walau sudah dibantah baik oleh Facebook maupun WhatsApp, pengguna layanan pesan instan yang identik dengan logo berwarna hijau ini juga khawatir akan data privasinya, terutama nomor telepon. WhatsApp menggunakan nomor telepon seluler yang digunakan penggunanya sebagai identitas.

Setelah pengumuman akuisisi tersebut, menurut Los Angeles Times, banyak pengguna WhatsApp yang memposting tweet yang berisi ancaman bakal menghapus akun WhatsApp-nya. Beberapa kicauan lain juga mempertanyakan masalah campur tangan Facebook dalam hal privasi.

Pengguna juga mengancam akan beralih ke layanan mobile messaging lain, seperti Viber, WeChat, Line, KakaoTalk, dan lain sebagainya, karena dinilai lebih independen. Mereka juga tidak mau jika diharuskan memiliki akun Facebook untuk bisa menggunakan layanan WhatsApp.

Bahkan, saat ini muncul akun Facebook yang diberi nama "Please Don't Ruin WhatsApp" (atau Tolong Jangan Rusak WhatsApp) sebagai bentuk protes pengguna layanan mobile messaging ini terhadap Facebook. Akun tersebut meminta Facebook untuk tidak menggabungkan pesan yang dikirim dari WhatsApp dengan layanan pesan Facebook Messenger.

Kekhawatiran pengguna WhatsApp seperti ditulis di atas memang bisa dimaklumi, sebab kini WhatsApp dimiliki oleh sebuah perusahaan jejaring sosial, yang pendapatan terbesarnya dari berjualan iklan. Kekhawatiran yang sama juga sempat terjadi saat Instagram dibeli oleh Facebook senilai Rp 9 triliun pada April 2012 lalu.

Situs Read Write pada Kamis (20/2/2014) menulis, Facebook kini memiliki akses ke semua data pengguna WhatsApp, seperti nomor telepon, buku alamat, informasi pembayaran, dan sebagainya. Sebelumnya Facebook tidak bisa mengakses informasi tersebut kecuali pengguna menghubungkan buku kontak teleponnya dengan Facebook Messenger, atau memberikan informasi kartu kredit saat berdonasi ke lembaga non-profit.

Sulit untuk percaya kepada Facebook, karena perusahaan ini memiliki sejarah mempermainkan privasi pengguna dan mengumpulkan informasi yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Tahun lalu Facebook juga menon-aktifkan privacy setting untuk memperluas jangkauan fitur pencariannya, mengubah privacy policy agar bisa menggunakan nama dan profil foto pengguna untuk keperluan iklan, dan menghadapi tuduhan telah memata-matai data dalam private messages agar bisa menampilkan iklan yang lebih sesuai.

Kebocoran data juga menjadi isu besar bagi pengguna Facebook. Pada Juni 2013 lalu, Facebook dilaporkan kecolongan, sekitar 6 juta data penggunanya. Selain itu, baru-baru ini juga terungkap fakta bahwa NSA (National Security Agency) ternyata memiliki akses langsung ke sistem Facebook dan perusahaan IT besar lain, seperti Google dan Apple.

Namun, baik Facebook maupun WhatsApp kembali menegaskan bahwa walau kini WhatsApp berada di bawah kendali Facebook, keduanya tetap merupakan perusahaan independen. Facebook bahkan tidak ingin memasang iklan di WhatsApp.

Jika hal tersebut benar, maka pengguna WhatsApp sebenarnya tak perlu khawatir akan masalah privasi mereka. Terlebih jika membaca FAQ WhatsApp di website resminya, di situ dijelaskan bahwa komunikasi antara server WhatsApp dengan smartphone yang digunakan pengguna sepenuhnya terenkripsi.

Selain itu, WhatsApp juga mengklaim pesan yang dikirim penggunanya tidak disimpan di dalam server-nya. "Begitu pesan tersebut terkirim, maka pesan percakapan tersebut akan dihapus dari server," begitu pernyataan tim support WhatsApp.

Namun, menurut Softpedia (20/2/2014), tetap saja agen mata-mata pemerintah seperti NSA bisa mengintip atau mengambil data saat dikirim, terlepas WhatsApp dibeli oleh Facebook atau tidak. Agen intelijen di seluruh dunia bisa saja mem-bypass kabel optik tanpa meminta persetujuan dari pengguna Internet terlebih dahulu, tak peduli peranti Internet apa yang dipakai.

Baca tentang


Sumber Softpedia
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X