ATSI: Operator Harus Kreatif Hadapi Imbas Registrasi Kartu Prabayar

Kompas.com - 24/04/2018, 13:48 WIB
Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Merza Fachys dalam konferensi pers Forum Merdeka Barat 9 di gedung Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Rabu (1/11/2017). KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTOKetua Umum Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Merza Fachys dalam konferensi pers Forum Merdeka Barat 9 di gedung Kemenkominfo, Jakarta Pusat, Rabu (1/11/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu tujuan program registrasi kartu SIM prabayar adalah menghilangkan kebiasaan masyarakat yang “beli-buang” kartu perdana. Pasalnya, registrasi dengan NIK dan KK secara mandiri dibatasi hanya untuk tiga kartu SIM prabayar per operator seluler.

Pembatasan ini demi mencapai efisiensi industri, di mana penghematan belanja operator seluler untuk kartu SIM bisa mencapai Rp 2,5 triliun per tahun. Masyarakat diharapkan membeli kartu perdana satu kali, lantas yang diisi berkali-kali adalah pulsa dan aktivasi paket.

Di sisi lain, penjualan starter pack (kartu perdana sekaligus paket kuota) menjadi salah satu yang paling laris di outlet tradisional karena dianggap memudahkan. Masyarakat cukup beli kartu perdana, lantas pulsa dan paket datanya sudah tersetel dan bisa dibuang ketika habis.

Menurut Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) operator seluler perlu memikirkan strategi baru agar outlet tradisional bisa meraup pendapatan selain dari penjualan starter pack.

“Sedang didiskusikan bersama agar ketemu solusinya. Semua operator dipersilahkan membuat model bisnis masing-masing menggunakan kreativitasnya sendiri,” kata Ketua Umum ATSI, Merza Fachys, Senin (23/4/2018), di Kantor ATSI, Kuningan, Jakarta.

Merza mencontohkan salah satu solusi yang bisa dipakai adalah memisahkan antara kartu perdana dengan benefit (paket kuota data). Dengan begitu, paket kuota data yang dijajakan itu memiliki nilai pembeda dengan pembelian pulsa elektronik via ATM atau channel online lainnya.

“Misalnya ada voucher 10 GB internet dijual Rp 100.000 di outlet. Kan orang bisa pilih beli itu ketimbang beli pulsa elektronik di ATM lalu harus aktivasi paket sendiri,” kata Merza.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Intinya, pendapatan untuk semua jalur distribusi harus dijaga keseimbangannya agar berdampak positif ke industri,” ia menambahkan.

Merza menilai para pelaku niaga tak perlu khawatir dengan program registrasi kartu prabayar. Ia yakin bahwa pelanggan terus bertumbuh dan pembelian kartu perdana baru yang tak semu akan terus ada.

“Kalau kebiasaan ‘sekali beli lalu buang’ itu tidak ada kan lebih kelihatan pertumbuhan seluler itu karena tumbuhnya pengguna. Yang harus jadi komoditi itu isinya, bukan kartu perdananya,” ia memungkasi.

Baca juga : Registrasi Kartu SIM untuk Tangkal Penipuan Dinilai Cuma Mitos

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.