BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Hi App

Evy Amir Syamsudin, dari Urus Narapidana hingga Jadi Founder Startup

Kompas.com - 21/04/2021, 16:25 WIB
Evy Amir Syamsudin, founder startup PT Hello Kreasi Indonesia (Hi App) yang merupakan aplikasi berbagi pesan buatan lokal. Hi App Indonesia Evy Amir Syamsudin, founder startup PT Hello Kreasi Indonesia (Hi App) yang merupakan aplikasi berbagi pesan buatan lokal.

KOMPAS.com – Pertumbuhan usaha rintisan atau startup di Indonesia naik secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2019, Indonesia menduduki posisi kelima dunia dengan 2.193 startup. Jumlah ini menempatkan Indonesia di bawah Amerika Serikat, India, Inggris, dan Kanada.

Meski tumbuh subur, dari sisi gender, industri startup masih didominasi oleh kaum adam. Riset MIKTI yang dimuat dalam buku Mapping & Database Startup Indonesia 2018 itu mendapati bahwa 91,18 persen pendiri atau founder startup adalah laki-laki, sedangkan perempuan hanya 8,82 persen.

Profesor Manajemen dan Organisasi Northwestern University Alice H Eagly menjelaskan, ketimpangan di industri teknologi bisa terjadi karena adanya stereotip gender dalam masyarakat.

Umumnya, perempuan dianggap sebagai pribadi yang hangat dan emosional, sedangkan laki-laki merupakan sosok yang tangguh dan rasional. Lantaran stereotip tersebut, kesempatan perempuan bekerja di bidang teknologi mengecil.

“Pun, perempuan berbakat dalam teknologi mungkin (akan) goyah jika mereka juga menginternalisasi stereotip masyarakat tersebut,” tulis Alice di TheConversation.com, Rabu (4/10/2017).

Stereotip tersebut disadari pula oleh Evy Amir Syamsudin sebelum membangun startup PT Hello Kreasi Indonesia yang mengembangkan aplikasi berbagi pesan dengan beragam fitur, Hi App. Terlebih, ia bukan berasal dari latar belakang teknologi, melainkan properti, manajemen, dan keuangan.

Namun, Evy tak menganggap hal tersebut sebagai penghalang bagi dirinya untuk terjun di bidang teknologi. Pasalnya, era digital justru membuka peluang luas bagi siapa saja untuk mengambil peran, termasuk perempuan dan kalangan yang tidak berasal dari bidang teknologi.

Berdayakan perempuan

Dalam membangun startup-nya, Evy pun merekrut banyak perempuan untuk terlibat dalam sektor yang selama ini terkesan didominasi laki-laki. Hal tersebut justru dapat meningkatkan kekayaan perspektif ide dan inovasi yang dihasilkan dalam pengembangan Hi App.

“Perbedaan gender laki-laki dan perempuan tak lagi dijadikan patokan. Produktivitas bangsa tak lagi digantungkan pada satu elemen gender. Kemampuan dan keterampilanlah yang diprioritaskan,” jelas Evy, selaku Founder Hi App, dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Selasa (13/4/2021).

Kolaborasi setiap individu dengan beragam latar belakang profesional, sosial, dan budaya, diharapkan membuat Hi App menjadi aplikasi inklusif yang mampu menyasar semua kalangan di seluruh Indonesia, bahkan hingga ke pelosok daerah.

Evy menuturkan, secara teknis, pengembangan Hi App juga menemui banyak tantangan. Sejak awal, tim pengembang melakukan banyak uji coba untuk memastikan Hi App dapat diandalkan oleh para penggunanya.

Saat uji coba publik pada 12 Oktober 2020, misalnya, tim pengembang menerima beragam respons terkait isu-isu teknis dan fungsional. Laporan ini mendorong tim pengembang untuk segera melakukan pembenahan dan penyesuaian.

Dijelaskan Evy, dalam pengembangan fitur atau layanan, tim Hi App mengandalkan analisis data dan riset pasar secara komprehensif. Hal ini dilakukan melalui survei dan wawancara kepada berbagai kelompok untuk memahami masalah komunikasi yang dihadapi masyarakat Indonesia.

Hi App juga berupaya menciptakan ekosistem fitur secara keseluruhan untuk meningkatkan kualitas gaya hidup digital para pengguna di Indonesia. Ekosistem ini terdiri atas fitur terjemahan, penyortiran dokumen, akun bisnis, dan pembayaran elektronik.

Dalam membangun network effect, Hi App berencana berkolaborasi dengan komunitas-komunitas sesuai segmentasinya. Harapannya, Hi App dapat menjadi sarana berbagai komunitas masyarakat dan profesional untuk saling berinteraksi, bertukar pikiran, dan membantu sesama.

Evy berharap, Hi App bisa menjadi aplikasi komunikasi buatan lokal kebanggaan Indonesia yang dapat memfasilitasi peningkatan kualitas hidup masyarakat Indonesia, layaknya aplikasi Line dari Jepang, Kakao milik Korea Selatan, dan We Chat dari China.

“Ketika ada aplikasi buatan lokal, kita cenderung ingin mencoba. Kami berharap masyarakat Indonesia dapat beralih dari aplikasi sejenis yang sudah populer sehingga Hi App dapat menjadi super app yang dimanfaatkan secara luas,” jelas Evy.

Hi App Indonesia, merupakan aplikasi komunikasi berbagi pesan buatan lokal dengan beragam fitur.Hi App Indonesia Hi App Indonesia, merupakan aplikasi komunikasi berbagi pesan buatan lokal dengan beragam fitur.

Untuk mewujudkan mimpi sebagai super app, Hi App sedang mengembangkan fitur premium yang bisa dimanfaatkan pengguna individu dan pemilik bisnis untuk mempermudah alur komunikasi. Fitur premium ini diharapkan bisa mendukung para pemilik bisnis berinteraksi dengan klien, seperti melalui pesan siaran dan obrolan.

Kehadiran fitur tersebut diharapkan dapat meningkatkan sinergitas sektor bisnis formal dan informal, terutama dalam mendukung usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang juga banyak digeluti oleh perempuan.

Berawal dari lapas

Semangat pemberdayaan yang ada pada Evy dan kemudian diimplementasikan di Hi App berawal dari lembaga pemasyarakatan (lapas).

Saat menjabat sebagai Ketua Dharma Wanita Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) periode 2011-2014, ia kerap berkunjung ke berbagai lapas di Indonesia.

Insting wirausaha Evy pun mendorongnya untuk memaksimalkan potensi warga binaan melalui rangkaian pelatihan, pembinaan, dan pendampingan berkelanjutan sehingga kualitas hidup mereka terus meningkat.

Dari situ, ia kemudian membentuk Second Chance Foundation. Yayasan itu didirikan untuk mendukung warga binaan pemasyarakatan (WBP) menjadi mandiri, produktif, dan dapat diterima kembali oleh masyarakat secara bermartabat.

Yayasan tersebut menjadi salah satu bentuk tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR) PT Hello Kreasi Indonesia kepada masyarakat Indonesia.

Evy berharap, sinergitas antara Hi App dan Second Chance memberikan peluang yang lebih besar kepada masyarakat Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas hidupnya.

Pada akhirnya, selain memberdayakan perempuan di lingkup internal, Hi App juga berharap untuk terus berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup dan kesempatan masyarakat Indonesia secara menyeluruh, terutama kaum perempuan.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya