Kamera "Roll Film" Ngetren Lagi, Foto #35mm Ramai di Instagram Tanah Air - Kompas.com

Kamera "Roll Film" Ngetren Lagi, Foto #35mm Ramai di Instagram Tanah Air

Fatimah Kartini Bohang
Kompas.com - 02/08/2017, 14:28 WIB
Ilustrasi roll film Kodak.Ist Ilustrasi roll film Kodak.

JAKARTA, KOMPAS.com - Di era digital seperti sekarang, masyarakat modern diberikan kemudahan untuk menjepret momen berharga, mengeditnya, lantas membagikannya ke media sosial dengan praktis. Tak perlu keluar modal untuk beli roll film, atau beranjak dari kasur untuk ke tempat cuci film.

Meski demikian, ada sebagian orang yang masih rindu dengan proses ruwet nan lawas. Mereka adalah para pehobi kamera film analog.

Peredaran konten dari pehobi kamera analog ini bisa diintip di Instagram, dengan memasukkan tanda pagar alias hashtag #indo35mm, # 35mm, #35mmfilm, #35mmfilmphotography, #filmisnotdead, dan sejenisnya.

Beberapa public figure turut meramaikan tren kamera analog di Instagram. Sebut saja penyanyi sekaligus dokter dan fotografer, Tompi; pemain film dan presenter, Gading Marten; hingga YouTuber kawakan Fathia Izzati atau dikenal dengan nama "Kittendust".


Jika Anda ingin menengok hasil jepretan kamera analog khusus dari pehobi Tanah Air, bisa menengok hashtag #indo35mm. Pantauan KompasTekno, Rabu (2/8/2017) tak kurang dari 150.000 foto dengan hashtag #indo35mm bertebaran di Instagram.

Apa maksud tagar #35mm?

35mm merujuk pada jenis film paling umum yang digunakan pada kamera analog. Warna-warna foto yang dihasilkan jepretan kamera analog sejatinya mirip dengan preset pada aplikasi pengeditan foto digital semacam VSCO, SnapSeed, dan kawanannya.

Efek-efek umum dari kamera analog semacam flare atau burn pun tersedia pada beberapa aplikasi pengeditan foto digital. Namun lagi-lagi, ini bukan cuma soal hasil tapi lebih ke proses.

Ada beberapa langkah dasar yang perlu dilewati pehobi kamera analog dari mulai menjepret hingga melihat hasil jepretan. Pertama-tama, mereka tentu harus memiliki kamera analog yang sekarang mulai langka, lantas mengisinya dengan roll film yang juga terhitung jarang di pasaran.

Dalam proses penjepretan, mereka tak bisa ujug-ujug melihat hasilnya seperti ketika menjepret di smartphone atau kamera digital. Setelah semua roll film habis dipakai untuk mengabadikan momen, barulah bisa dicuci dan dilihat hasilnya. Untuk masuk ke Instagram, hasil cuci foto perlu di-scan terlebih dahulu.


"Tapi justru di situ letak kemewahannya. Pas lihat hasil cucinya, bisa sesuai ekspektasi, melebihi ekspektasi, atau nggak sesuai. Jadinya seru," kata pehobi kamera analog sekaligus founder dari ruang kreatif Saka Space, Fahmy Siddiq, pada KompasTekno.

Seni menikmati proses

Perkara cuci foto juga perlu perjuangan. Anda harus terlebih dahulu mencari dan meriset tempat cuci foto mana yang bisa diandalkan.

"Kalau gue biasanya cuci foto di Soup N Film STC. Jadi kalau lagi di Jakarta aja baru nyuci film. Soalnya kalau di sembarang tempat warnanya suka berubah," kata pehobi kamera analog, Azmi Mudhoffar, yang berdomisili di Malang.

Saat KompasTekno bertandang ke Soup N Film di STC Senayan Jakarta, diketahui bahwa peminat kamera analog memang kembali masif meski tak bisa serta-merta menyamai popularitas kamera digital saat ini.

Rata-rata setiap harinya ada 100-an orang yang datang untuk mencuci foto di Soup N Film. Mereka harus merogoh kocek sekitar Rp 50.000 untuk mencuci satu roll film dan menunggu hasil cucinya selama 14 hari.

Catatan: Artikel ini adalah bagian dari Liputan Khusus KompasTekno soal "Tren  Kamera Analog di Era Digital". Artikel-artikel lain soal seluk-beluk tren kamera analog bisa dipantau di tautan ini.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisFatimah Kartini Bohang
EditorReza Wahyudi
Komentar