DONOR ASI

Uji Laboratorium untuk Cegah Penyakit

Kompas.com - 02/08/2012, 03:13 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Niat memberikan air susu ibu eksklusif kepada bayi membuat ibu yang tak mampu menghasilkan ASI memadai menggunakan ASI donor dari ibu lain. Proses donor umumnya dilakukan atas dasar kepercayaan tanpa mengetahui rekam jejak kesehatan donor. Tindakan ini berisiko.

”ASI adalah makanan terbaik bagi bayi, tapi ASI dapat menjadi moda penularan kuman,” kata anggota Satuan Tugas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Elizabeth Yohmi, di Jakarta, Rabu (1/8).

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat melaporkan, sejumlah virus dan bakteri terdeteksi dalam ASI. Virus itu, antara lain, menyebabkan penyakit hepatitis B, hepatitis C, herpes (cytomegalovirus-CMV dan herpes simplex virus-HSV), human immunodeficiency virus (HIV), rubela, serta kanker darah dan kelainan sistem saraf yang dipicu human T-lymphotropic virus (HTLV) tipe 1 dan tipe 2.

Di AS, donor ASI tanpa uji laboratorium tidak bisa dilakukan. Di Indonesia, uji ASI jarang dilakukan.

Ketua Satgas ASI IDAI I Gusti Ayu Nyoman Pratiwi mengungkapkan adanya kasus penularan HIV dari ibu kepada anak tanpa disadari orangtuanya. Ibu itu tertular HIV dari suaminya yang pencandu narkoba semasa muda. Namun, sang suami tidak pernah bercerita tentang penyakit yang diidapnya hingga bayinya menunjukkan gejala diare terus-menerus semasa disusui ibu.

Kondisi ini mengkhawatirkan mengingat semakin banyak ibu rumah tangga tertular HIV dari suami. Komisi Penanggulangan AIDS memperkirakan 1,9 juta perempuan menikah dengan laki-laki yang terinfeksi HIV pada 2009. Adapun laki-laki yang menjadi pelanggan pekerja seks mencapai 3,2 juta orang.

Salah satu moda penularan HIV kepada bayi adalah melalui ASI. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, penularan HIV melalui menyusui sebesar 5-20 persen. Penularan lain terjadi ketika bayi dalam kandungan atau pada persalinan.

”Makin lama bayi disusui ASI yang mengandung HIV, makin besar kemungkinan bayi tertular,” kata Yaomi. Penularan HIV melalui ASI dapat terjadi lewat ASI donor.

Anggota Satgas ASI IDAI lain, Rosalina D Roeslani, menambahkan, cara mengurangi penularan penyakit melalui ASI donor adalah pengujian berjenjang, mulai pemeriksaan ibu donor secara lisan dan tulisan, uji laboratorium, penyimpanan ASI pada suhu minus 20 derajat celsius untuk mematikan dan menonaktifkan CMV dan HTLV, serta pasteurisasi untuk mematikan CMV dan HIV.

Menurut Mia Sutanto, Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, yang terbaik memang ibu berupaya menyusui sendiri bayinya. (MZW)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.