Kompas.com - 25/06/2013, 12:08 WIB
EditorReza Wahyudi

Shutterstock.com

KOMPAS.com — Jaksa Penuntut Umum Rahmat Sori bercerita, dirinya pernah berbicara dengan terdakwa perkara terorisme, Mawan Kurniawan alias Mawan alias Clicker. "Saya bilang sama dia (Mawan), 'Kamu sebenarnya bisa punya 10 Alphard di rumah'," kata Rahmat.

Mawan bisa mempunyai 10 kendaraan Alphard jika ia mampu menggunakan kemampuan dan penguasaan teknologi yang dimilikinya secara benar, misalnya menjadi konsultan informasi dan teknologi di perusahaan besar untuk melindungi atau membuat sistem keamanan database pada perusahaan tersebut.

Akan tetapi, dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis (13/6/2013), Rahmat menuntut terdakwa Mawan dengan hukuman penjara 10 tahun dan denda Rp 300 juta subsider 6 bulan penjara.

Mengapa? Sesuai tuntutan, Mawan dinilai membantu Rizki Gunawan alias Rony Setiawan alias Luqman Gun alias Gesek alias Kiki, terdakwa lain, meretas (hacking) situs investasi, yaitu speedline.com, untuk tujuan terkait dengan terorisme.

Membobol situs memang bukan pekerjaan yang mudah bagi kebanyakan orang. Namun, bagi orang sekelas Mawan, pekerjaan itu tidak terlalu sulit dilakukan. Sebagai karyawan swasta dan programmer serta lulusan perguruan tinggi informatika, Mawan dapat membuat program-program untuk membobol sebuah situs, seperti mengubah tampilan (deface). Mawan didakwa mengubah tampilan beberapa situs, antara lain situs Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan Panin Sekuritas.

Sejak November 2010, menurut jaksa penuntut umum, terdakwa Mawan kemudian juga membantu membuat program stealer bagi terdakwa Rizki Gunawan alias Luqman Gun untuk membobol situs investasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, Mawan juga membuat program checker. Fungsi program itu, antara lain, mengecek validitas login dari e-mail, Paypal, dan Facebook serta mengetahui isi data (content) dari e-mail, Paypal, dan Facebook tersebut.

Dengan program-program yang dibuat terdakwa Rizki dan teknik-teknik lain, Rizki alias Luqman dapat memanfaatkan program-program dari Mawan untuk membobol situs investasi. Dengan menggunakan program yang diberikan oleh terdakwa, Luqman mampu mengumpulkan uang sekitar Rp 4 miliar.

Sebagian besar uang itu digunakan untuk pelatihan militer terkait di Poso. Dari hasil hacking itu, terdakwa Mawan juga mendapatkan uang sekitar Rp 300 juta dari Rizki alias Luqman.

Atas perbuatan itu, Rahmat pun menilai terdakwa Mawan melanggar Pasal 15 juncto Pasal 11 dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Selain itu, Mawan juga dijerat dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang serta Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.