Terlalu Banyak, Operator Seluler Diminta "Bersatu"

Kompas.com - 25/06/2013, 16:14 WIB
Penulis Aditya Panji
|
EditorWicak Hidayat

Tabita Diela/Kompas.com Mengetik pesan singkat di ponsel

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penyelenggara telekomunikasi seluler terbanyak di dunia jika dibandingkan dengan populasinya. Di Tanah Air, total ada 10 operator, baik teknologi GSM maupun CDMA.

Di satu sisi, banyaknya jumlah pemain membawa efek positif terhadap penurunan tarif seluler. Namun di sisi lain, hal ini membuat sumber daya frekuensi radio menjadi terbatas.

Operator dengan teknologi GSM mendominasi pangsa pasar. Telkomsel menguasai pangsa pasar sebesar 42 persen, Indosat 16,7 persen, XL Axiata 15,9 persen, Hutchison 3 Indonesia (Tri) 5,4 persen, dan Axis Telekom Indonesia 2,1 persen.

Menurut Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos dan Indormatika, Kementerian Kominfo, M Budi Setiawan, dari lima operator GSM tersebut, Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata terbilang kekurangan frekuensi jika dilihat dari kebutuhan bandwidth, pelanggan, efisiensi spektrum dan kebutuhan lain.

Director & Chief Wholesale Indosat, Fadzri Sentosa memprediksi, trafik data (internet) di Indonesia pada 2017 mendatang akan tumbuh lima kali lipat atau 200% setiap tahunnya. Sementara kemampuan operator untuk menambah kapasitas cuma 28% tiap tahunnya.

Atas dasar itu, munculah wacana untuk konsolidasi maupun merger dan akuisisi antar operator seluler.

President Director & CEO XL Axiata, Hasnul Suhaimi mengatakan, konsolidasi harus dilakukan karena 10 operator sudah terlalu banyak. Sebelumnya, konsolidasi penuh sudah pernah dilakukan sejak era Telkom Mobile dan Telkomsel, serta Indosat dan Satelindo.

"Saya rasa empat atau lima operator di Indonesia sudah cukup," kata Hasnul saat diskusi bertajuk Spirit Berbagi & Mencari Keadilan di Industri yang diselenggarakan media bisnis telematika IndoTelko, Selasa (25/6/2013).

Jika jumah operator seluler tidak berkurang, maka dalam 10 tahun mendatang para pemain akan mengalami kesulitan di tengah persaingan yang makin ketat.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyambut baik jika pelaku industri hendak melakukan konsolidasi atau akuisisi dan merger, karena ini sudah menjadi wacana lama yang tak kunjung terealisasi.

"Kalau mau merger atau akuisisi silakan saja, asal izin ke Kemenkominfo. Kita tidak akan menghalangi, tapi ada hal yang perlu dipertimbangkan oleh regulator yang menangani penanaman modal, persaingan usaha, harus ada penelitian dulu," tegas Muhammad Budi Setiawan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X