Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Awas, Video Tutorial Palsu di YouTube Mengandung Malware

Kompas.com - 22/03/2023, 13:00 WIB
Mikhaangelo Fabialdi Nurhapy,
Reska K. Nistanto

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) makin marak terjadi. Sebelumnya AI digunakan untuk meniru suara orang terdekat dalam penipuan, kini kecerdasan buatan dimanfaatkan untuk menyebarkan malware lewat YouTube.

Informasi ini pertama kali dilaporkan oleh perusahaan keamanan siber dengan fokus pada kecerdasan buatan, CloudSEK.

Menurut perusahaan tersebut, video palsu yang dimaksud menyangkut tutorial cara mengunduh software bajakan, seperti Adobe Photoshop, Adobe Premiere Pro, AutoCAD, dan software berbayar lainnya.

Baca juga: Waspada, ChatGPT Palsu Bawa Malware Berbahaya

Software-software tersebut bukan asli dari pembuat, melainkan telah disusupi oleh malware. Penipuan semacam ini makin populer dilihat dari jumlah video tutorial palsu yang meningkat sebesar 200 hingga 300 persen (month-on-month) di YouTube, dari November 2022 lalu.

Video tutorial ini dipandu oleh avatar manusia yang dibuat dengan bantuan program kecerdasan buatan Synthesia dan D-ID. Dengan demikian, video tersebut akan lebih mudah dipercaya ketimbang tutorial yang hanya memanfaatkan teks dan audio.

ilustrasi avatar palsu yang digunakan dalam penipuanScreenRant ilustrasi avatar palsu yang digunakan dalam penipuan
Avatar ini akan berbicara dan "mengajarkan" pengguna untuk mengunduh software bajakan. Hanya saja, tautan (link) yang dimuat di deskripsi video YouTube mengandung malware, yaitu perangkat lunak (software) berbahaya yang mampu mencuri data, menyebabkan kekacauan, dan merusak perangkat pengguna.

Umumnya, malware ini dikemas dengan alat pemendek URL seperti bit.ly atau menggunakan platform penyimpanan online seperti Media Fire.

Baca juga: Hati-hati Penipuan Menggunakan AI, Bisa Tiru Suara Orang Terdekat

Nah, malware yang dimuat dalam tautan tersebut dibagi menjadi tiga jenis, yakni Vidar, RedLine, dan Raccoon yang berfungsi untuk mencuri kata sandi (password), informasi kartu kredit, informasi bank, dan data pribadi pengguna yang lainnya.

Dalam melakukan aksinya, hacker (peretas) juga membajak kanal YouTube populer dengan ratusan ribu pelanggan (subscribers).

Meskipun pemilik asli kanal YouTube tersebut bisa mendapatkan kembali akses akun dalam waktu yang singkat, terdapat kemungkinan bahwa peretas ini sudah telanjur mengunggah video yang kemudian diklik oleh pelanggannya, terutama bagi mereka yang mengaktifkan lonceng notifikasi.

Selain kanal YouTube populer, peretas mengincar akun yang sudah tidak aktif untuk melakukan kejahatannya sambil melakukan strategi lainnya, seperti mengunggah video tutorial berulang kali dalam waktu yang singkat dan membuat komentar palsu dari sejumlah akun yang berbeda.

Video dari akun yang sudah tidak aktif ini memiliki potensi korban yang lebih sedikit. Namun, di saat yang bersamaan video ini akan bertahan lebih lama di YouTube karena tidak adanya pihak yang melaporkan video palsu itu.

Cara menghindari peretasan

ilustrasi avatar palsu yang digunakan dalam penipuanCloudSEK ilustrasi avatar palsu yang digunakan dalam penipuan

Selagi menunggu YouTube untuk mengambil tindakan dalam menanggulangi penipuan ini, ada sejumlah strategi yang dapat dilakukan pengguna agar tidak jatuh ke dalam jebakan peretas.

Pertama, CloudSEK mengimbau pengguna untuk tidak mengunduh atau menggunakan software bajakan karena risikonya jauh lebih besar daripada manfaatnya.

Dalam video tutorial pengunduhan software yang legal pun, pengguna bisa dengan mudah mendeteksi video palsu.

Baca juga: Hati-hati, ChatGPT Palsu Beredar di Play Store dan App Store

Misalnya, dalam video berdurasi 3 menit, avatar berbasis kecerdasan buatan hanya akan berbicara sekitar 25 detik sebelum menginstruksikan pengguna untuk mengeklik tautan yang dimuat dalam deskripsi video.

Lebih lanjutnya, deskripsi video tersebut akan menggunakan pemendek URL, kode password, dan catatan tambahan apabila pengguna mengalami kesulitan ketika sedang mengunduh file.

Kedua, pengguna dianjurkan untuk menambahkan otentikasi multifaktor (Multi-Factor Authentication) seperti Google Authenticator pada akun mereka.

Pengguna juga harus lebih waspada dan tidak mengeklik tautan dan e-mail yang tidak dikenal, sebagaimana dikutip KompasTekno dari situs resmi CloudSEK, Rabu (22/3/2023).

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Samsung Experience Lounge Hadir di Jakarta, 'Ruangan' Smart Home dan Serba AI

Samsung Experience Lounge Hadir di Jakarta, "Ruangan" Smart Home dan Serba AI

Gadget
Bocoran iPhone 16 Series, Bawa Layar Lebih Luas dari iPhone 15

Bocoran iPhone 16 Series, Bawa Layar Lebih Luas dari iPhone 15

Gadget
Cara Mengatur Durasi Layar dan Aplikasi di iPhone

Cara Mengatur Durasi Layar dan Aplikasi di iPhone

Gadget
Microsoft Akan Beri Pelatihan AI Skilling untuk 840.000 Orang di Indonesia

Microsoft Akan Beri Pelatihan AI Skilling untuk 840.000 Orang di Indonesia

e-Business
Kenapa Aplikasi di iPhone Menginstal Ulang dengan Sendirinya? Begini Cara Mengatasinya

Kenapa Aplikasi di iPhone Menginstal Ulang dengan Sendirinya? Begini Cara Mengatasinya

Gadget
Merger XL Axiata-Smartfren, Siapa Berkuasa?

Merger XL Axiata-Smartfren, Siapa Berkuasa?

Internet
Bos Microsoft Satya Nadella Ungkap Peluang Komunitas Developer Indonesia Masuk 5 Besar Dunia

Bos Microsoft Satya Nadella Ungkap Peluang Komunitas Developer Indonesia Masuk 5 Besar Dunia

Software
Cara Mengaktifkan Passkey di WhatsApp Android

Cara Mengaktifkan Passkey di WhatsApp Android

Software
OpenAI Rilis Fitur 'Memory' di ChatGPT, Bisa Ingat dan Kenali Pengguna

OpenAI Rilis Fitur "Memory" di ChatGPT, Bisa Ingat dan Kenali Pengguna

Software
Daftar 20 HP Terlaris Sepanjang Sejarah, Nomor 1 Bukan Smartphone

Daftar 20 HP Terlaris Sepanjang Sejarah, Nomor 1 Bukan Smartphone

Gadget
Microsoft Investasi Rp 27 Triliun di Indonesia, Terbesar dalam 29 Tahun

Microsoft Investasi Rp 27 Triliun di Indonesia, Terbesar dalam 29 Tahun

e-Business
'Microsoft Build: AI Day' Digelar di Jakarta, Dihadiri CEO Microsoft Satya Nadella

"Microsoft Build: AI Day" Digelar di Jakarta, Dihadiri CEO Microsoft Satya Nadella

e-Business
Bukti Investasi Apple Rp 1,6 Triliun di Indonesia Masih Sekadar Janji

Bukti Investasi Apple Rp 1,6 Triliun di Indonesia Masih Sekadar Janji

e-Business
Smartphone Vivo Y18e Meluncur, Bawa Layar 90 Hz dan Baterai 5.000 mAh

Smartphone Vivo Y18e Meluncur, Bawa Layar 90 Hz dan Baterai 5.000 mAh

Gadget
Tablet Xiaomi Pad 6S Pro Meluncur di Indonesia 5 Mei, Ini Bocoran Spesifikasinya

Tablet Xiaomi Pad 6S Pro Meluncur di Indonesia 5 Mei, Ini Bocoran Spesifikasinya

Gadget
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com