Inikah Penyebab Nilai Tukar Bitcoin Bergejolak? - Kompas.com

Inikah Penyebab Nilai Tukar Bitcoin Bergejolak?

Yoga Hastyadi Widiartanto
Kompas.com - 14/09/2017, 18:14 WIB
IlustrasiTechCrunch Ilustrasi

KOMPAS.com - Nilai tukar mata uang digital bitcoin tampaknya memang sedang tidak stabil. Dalam sebulan ini sudah terjadi dua kali penurunan nilai tukar bitcoin, meski kemudian nilainya kembali naik.

Peristiwa pertama terjadi saat China mengumumkan niatnya untuk memblokir pemakaian mata uang digital tersebut. Efeknya nilai tukar bitcoin langsung turun hingga 10 persen. (Baca: Apa Itu Bitcoin?)

Lalu, sebagaimana dilansir KompasTekno dari The Next Web, Kamis (14/9/2017), nilai tukar tersebut kembali mengalami penurunan akibat komentar CEO JP Morgan, Jamie Dimon, awal pekan ini.

Jamie Dimon, saat itu mengatakan bahwa bitcoin adalah sebuah kekacauan yang akan segera meledak. Dia bahkan berkelakar bahwa putrinya telah membeli sejumlah bitcoin, dan merasa jenius karena nilai tukar mata udang digital itu naik hingga lebih 300 persen di tahun ini.

“Ini (bitcoin) bukan sesuatu yang nyata, suatu saat ini akan mati. Saya tidak menyarankan untuk segera mengumpulkan bitcoin dan menjual 100.000 dollar AS bitcoin sebelum nilainya turun,” terangnya saat bicara dalam acara Delivering Alpha Conference.

“Ini bukan tindakan yang saya sarankan. Putri saya sendiri sudah membeli bitcoin, lalu nilainya naik dan sekarang dia merasa jadi orang jenius,” imbuhnya.

Perkataan Jamie Dimon itu berdampak penurunan nilai tukar bitcoin menjadi 3.772 dollar AS atau sekitar Rp 49,9 juta per kepingnya. Nilai tukar ini merupakan yang paling rendah selama sebulan belakangan.

Walau demikian, tak butuh waktu lama agar nilai tukar bitcoin kembali naik. Pada Rabu (13/9/2017), nilai tukarnya kembali berada di titik 3.894 dollar AS atau sekitar Rp 51,5 juta per kepingnya.

Sebagai gambaran, sekitar enam bulan lalu, nilai tertinggi bitcoin adalah 1.223 dollar AS atau setara Rp 16,1 juta. Sedangkan setengah tahun sebelum angka itu tercapai, nilai tukar tertinggi bitcoin hanya sekitar 600 dollar AS atau setara Rp 7,9 juta per kepingnya.

Sebelumnya, pada 2015 silam, Jamie Dimon juga pernah mengatakan hal yang sama soal bitcoin. Dia berpendapat bahwa pemerintah tidak mungkin membiarkan nilai tukar bitcoin lebih tinggi dan jadi tantangan bagi mata uang lokal.

Kala itu, nilai tukar bitcoin hanya 334 dollar AS atau setara Rp 4,4 juta per kepingnya. Toh ternyata kata-kata tersebut salah. Jika pada 2015 silam, Anda termasuk orang yang tidak mendengarkan pernyataan Jamie Dimon serta tetap membeli 10 bitcoin, maka sekarang investasi itu sudah bernilai lebih dari 30.000 dollar AS atau setara Rp 397 juta.

Satu hal saja yang perlu dicatat baik-baik, seperti apapun kata Jamie Dimon dan betatapun naiknya nilai tukar bitcoin, tetap tidak ada satu orang pun yang 100 persen memprediksi masa depan. Segalanya tentang mata uang digital itu bisa berubah sewaktu-waktu.

Baca: Pertama Kali, Harga Bitcoin Kalahkan Emas

PenulisYoga Hastyadi Widiartanto
EditorReza Wahyudi

Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM