Salin Artikel

Jauhi Jor-joran, Operator Seluler di China dan India Jadi Besar

Ada contoh China dan India yang juga pernah kelebihan operator, juga jor-joran. Dari 6 operator tinggal 3 di China, ARPU (average revenue per user – pendapatan dari rata-rata pelanggan) naik jadi Rp 100.000, dan tiga operator papan atas India, Jio, Airtel dan Vi, begitu yakin dan berani menaikan tarif, ARPU mereka pun melejit.

Sayangnya sebagian operator seluler di Tanah Air saat ini masih berkutat pada penambahan pelanggan dengan iming-iming harga paket data yang murah. Umumnya mereka menjual data pas, tidak jauh atau bahkan di bawah harga normal data yang sekitar Rp 3.000 – Rp 4.000 per GB.

Penjualan memang meningkat, uang masuk lebih besar dari tahun sebelumnya, namun biaya modal (capex – capital expenditure) dan biaya operasi (opex – operational expenditure) membengkak. Terjadi ketimpangan, laba diganduli biaya.

Telkomsel yang tidak pernah ikut jor-joran harga, pendapatannya sekitar Rp 90 triliun dengan laba sekitar Rp 25 triliun, jumlah pelanggannya 173,5 juta. XL Axiata dengan jumlah pelanggan 57,9 juta, pendapatan pada periode sama Rp 26,8 triliun dengan laba Rp 1,3 triliun, laba terbaik sejak 2013.

Kalau tidak terjebak pada kompetisi, mestinya pendapatan XL Axiata dengan jumlah pelanggan sepertiga-an Telkomsel, Rp 30 triliun-an dan laba sekitar Rp 6,5 triliun. Pendapatan kurang banyak, laba beda jauh.

Dampak kompetisi, operator yang terlibat tidak bisa mengembangkan jaringan, tidak mampu menangguk laba cukup untuk tumbuh positif. Hal ini juga pernah terjadi di China dan India dengan jumlah penduduk sama, sekitaran 1,3 miliar jiwa masing-masing.

Tahun 2008, saat masih melayani 3G, China sudah mulai konsolidasi karena menurut pemerintahnya, enam operator tidaklah efisien. Ketika dipangkas menjadi hanya tiga operator, kompetisi menjadi lebih sehat, ARPU mereka naik.

Pola konsumsi pelanggan

Pelanggan tumbuh dan area operasi yang dibagi rata, lalu mereka mulai mengembangkan jaringan dengan teknologi terbaru. ARPU operator di China pun mencapai rata-rata Rp 100.000, sementara Telkomsel sekitar Rp 43.000, XL Axiata Rp 38.000.

Di India, persaingan tarif di industri telko dimainkan tiga dari enam operator yang pangsa pasarnya beda tipis. Jio, si bungsu, menjadi nomor satu tetapi pangsa pasarnya hanya 37 persen, disusul Airtel (30 persen) dan Vodafone Idea/Vi (23 persen).

Selain sadar perang tarif tanpa ujung, pendapatan pun tak akan meningkatkan capex yang masif pada teknologi jaringan. Pada akhir 2021 Airtel menaikkan tarif, mencoba keluar dari kompetisi tidak sehat.

Airtel mampu memahami pola konsumsi pelanggannya dan data ini jadi bekal operator di bawah Barthi Enterprise itu menentukan keputusan. Langkah Airtel diikuti Vi dan Jio.

Konsumsi data rata-rata per pengguna 16 GB per bulan, saat tepat menaikkan tarif untuk menyehatkan industri. “Mampu mengembalikan modal untuk tumbuh ke lebih banyak bidang teknologi, meluncurkan lebih banyak jaringan, dan menjadi model keberlanjutan yang lebih layak di masa depan,” tutur bos Airtel Sunil Bharti Mittal.

Masing-masing operator melakukan langkah strategis, punya satu keinginan yang sama, ARPU pada 2022 harus bisa 200 rupee (sekitar Rp 40.000), dan terus menanjak di 2023, 300 rupee (Rp 57.000-an). Jauh dari saat ini yang hanya 150 rupee (Rp 28.000).

Dengan postur ARPU demikian, Airtel percaya diri ancang-ancang mengembangkan jaringan 5G-nya. Tahun silam uji coba dilakukan, bahkan mitranya siap membangun Open-RAN (radio access network), sementara Jio berambisi merangkai jaringan 5G di 1.000 kota di India.

Aplikasi dan konten

Jio sebagaimana yang dilakukan Telkomsel mengembangkan aplikasi dan konten. Strategi menyiapkan aplikasi ini sudah dimulai sejak lima tahun silam dan terus ajeg bertambah.

Aplikasi Jio merambah e-health, fintech, streaming movie, messenger, mengakomodir jutaan pelanggan penggemar televisi. Menyediakan aplikasi diharapkan meningkatkan penggunaan data dan meningkatkan trafik.

Pengembangan jaringan 5G gencar dilakukan India, paket-paket 5G disiapkan dengan harga yang tidak berbeda jauh dengan paket 4G. China Telecom yang membangun 5G sejak 2019 mencatat pelanggan migrasi dari 4G ke 5G ada 131 juta hingga Juni 2021.

Kenaikan kelas 36 persen pelanggannya ini membuat ARPU-nya ikut naik sampai 2,9 persen, kata Ke Ruiwen, CEO China Telcom.

Peningkatan penggunaan data pelanggan juga digalakkan operator di beberapa negara tetangga. Menurut OpenSignal, kenaikan paling drastis selama pademi Covid-19 terjadi di Malaysia, 35,2 persen hingga 2021.

Kini, rata-rata pemakaian data warga Malaysia sebanyak 19,5 GB/bulan. Sementara menurut catatan Telkomsel, konsumsi data pelanggan mereka pada 2019 sebesar 5,2 GB/bulan kini mendekati 41 GB/bulan yang akan menjadi 50 GB di 2023. ***

https://tekno.kompas.com/read/2022/03/07/12020027/jauhi-jor-joran-operator-seluler-di-china-dan-india-jadi-besar

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.