JAJAK PENDAPAT

"E-book": Antara Ancaman dan Asa

Kompas.com - 29/06/2012, 02:25 WIB
Editor

Oleh NURUL FATCHIATI

Seiring dengan kemajuan zaman, cepat atau lambat buku elektronik akan semakin populer di masyarakat. Apalagi berbagai macam gadget elektronik bukan barang asing lagi. Pertanyaan yang muncul, apakah e-book akan mampu mendongkrak minat masyarakat untuk membaca buku dan mengembangkan industri perbukuan? 

Bukanlah pemandangan aneh, ketika orangtua asyik membaca buku, anak-anaknya sibuk memainkan gadget. Ini adalah potret perbedaan gaya hidup antara generasi tua dan muda, terutama merebak di kelas menengah di kota besar.

Muncul pertanyaan, apakah mereka yang biasa membaca buku dalam format cetak akan beralih ke format e-book? Atau malah lebih parah, dengan mengalihkan kebiasaan membaca buku kepada ”pencarian hiburan” di dunia maya melalui berbagai jenis gadget?

Keaksaraan rendah

Buku adalah jendela dunia. Lewat buku, pikiran dan jiwa dapat mengembara menembus sekat- sekat ruang dan waktu. Buku mengantarkan orang kepada dunia baru. Namun, semua itu tiada berarti jika tingkat keaksaraan atau literasi masyarakat masih rendah.

Mengacu pada data Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) yang menyurvei tingkat literasi 45 negara (2006), tingkat keaksaraan di Indonesia berada pada posisi 41. Kemampuan literasi siswa sekolah dasar di Indonesia hanya empat peringkat lebih baik daripada siswa di Afrika Selatan. Padahal, tingkat kemampuan dasar dalam baca tulis menjadi bagian penting dalam memahami buku bacaan atau literatur.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hasil survei PIRLS juga menyatakan, ketersediaan bahan bacaan di rumah pada masyarakat Indonesia masih termasuk dalam kategori menengah ke bawah. Kategori menengah yaitu jika jumlah bahan bacaan 25 hingga 100 buku, sedangkan kategori bawah jika jumlah buku bacaan di rumah kurang dari 25 buku. Fakta tersebut diperkuat dengan jumlah judul buku yang diproduksi setiap tahun di Indonesia yang terbilang masih rendah.

Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dalam laporannya yang dipublikasikan Asean Book Publishers Association (ABPA) menyebutkan, pertumbuhan buku di Indonesia mencapai lebih dari 2.000 judul buku setiap bulannya (berdasarkan data Toko Buku Gramedia November 2009). Di tingkat Asia Tenggara, jumlah itu memang tampak besar dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Tahun 2009, Malaysia tercatat menerbitkan 13.157 judul buku per tahun, Thailand 3.460 judul buku per tahun, dan Brunei 91 judul buku per tahun.

Akan tetapi, dibandingkan dengan India dan China, jumlah produksi sekitar 18.000 judul buku per tahun di negeri ini terasa rendah. India tercatat menerbitkan sekitar 60.000 judul buku per tahun dan China 140.000 judul buku per tahun.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.