Game Horor Bandung Sukses Galang Rp 250 Juta

Kompas.com - 20/05/2013, 10:32 WIB
EditorReza Wahyudi

BANDUNG, KOMPAS.com - DreadOut, sebuah gim horor besutan studio asal Bandung bernama Digital Happiness, sukses menggalang dukungan pendanaan melalui skema crowdfunding sebanyak 26.097 dollar. Dana segar itu dipastikan oleh mereka bakal mempercepat proses produksi agar gim bisa diluncurkan pada akhir tahun 2013 nanti.

Kepastian itu bisa diketahui dari proposal mereka yang ditayangkan di situs crowdfunding Indiegogo, Minggu (19/5/2013). Gim tersebut berhasil meraup dana tambahan sebesar 26.097 dollar AS atau senilai Rp 250 juta. Angka ini atau melampaui target yang semula dipatok 25.000 dollar AS.

"Seru, mencekam, dan mendebarkan," ujar Game Producer Digital Happiness, Rachmad Imron, saat dihubungi Minggu malam.

Gim DreadOut adalah proyek yang dikembangkan Digital Happiness selama 1 tahun lebih. Bergenre horor, pemain menggerakkan protagonis bernama Linda, seorang siswi SMA, yang terjebak bersama teman-temannya di sebuah kota yang ditinggalkan. Disana ternyata penuh dengan misteri mencekam dan tergantung Linda untuk memecahkannya melalui kemampuan melihat hantu dari layar smartphone miliknya.

Menurut rencana, gim ini akan dipersiapkan untuk platform PC. Saat ini bahkan sudah mengantre di Steam Greenlight untuk mendapatkan dukungan pasar internasional.

Disinggung mengenai keberhasilan mereka menggalang dana, Imron mengaku terharu menyaksikan dukungan melimpah yang diterima selama proses pembuatan gim ini mengingat Digital Happiness adalah nama tanpa reputasi dalam industri gim nasional atau bahkan internasional. Meski demikian, setidaknya 500 pendukung dari berbagai negara tetap menyalurkan dukungan mereka terhadap gim ini.

"Ini adalah langkah awal penyelesaian gim DreadOut dan sekarang kami memiliki 500 bos baru dari berbagai negara yang telah menjadi investor," kata Imron.

Suntikan dana ini dipastikan bakal mempercepat proses produksi gim DreadOut. Imron menerangkan bahwa mereka bakal memanfaatkan dana tersebut untuk menyewa kantor dengan ruangan lebih besar dan menarik tenaga tambahan untuk pemrograman gim. Bila mereka gagal mengumpulkan dana dari Indiegogo, Imron tetap yakin bisa merampungkan DreadOut tapi waktunya lebih lambat mengingat mereka harus mendapatkan tambahan pendanaan dari proyek sampingan.

Kisah DreadOut bisa jadi mematahkan anggapan bahwa crowdfunding untuk gim di Indonesia takkan berhasil. Dua contoh sebelumnya yakni Eternal Grace maupun Dewa Ruci gagal mendapatkan pendanaan dari situs crowdfunding Indonesia, Wujudkan.com.

Viral

Keberhasilan gim DreadOut dalam menggaet pendukung di Indiegogo sebetulnya tidak lepas dari strategi yang dipakai dalam memperkenalkan gim tersebut. Salah satunya dengan merilis demo gim pada tanggal 31 Maret.

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X