Kompas.com - 31/05/2013, 16:18 WIB
EditorReza Wahyudi

"MIH bukan venture capital yang berinvestasi untuk meningkatkan value sebuah perusahaan, lalu berharap ada investor lain yang berinvestasi di perusahaan tersebut. Itulah sebabnya MIH tidak memilih untuk menjual Multiply karena alasan mereka bukan uang. Mereka strategic investor yang datang untuk menang," terang Andi.

Para pengamat menilai Multiply kurang efisien dalam menjalankan bisnisnya, dan kurang berpikir a la startup (perusahaan yang masih merintis).

Salah satu yang menjadi beban Multiply adalah subsidi kepada pelanggan, berupa layanan ongkos kirim gratis dengan nilai maksimal Rp 25.000 atas produk yang dipesan pembeli dari penjual di Multiply. Semakin banyak transaksi, maka makin tinggi subsidi yang diderita Multiply. Meskipun subsidi pengiriman gratis ini sudah dianggarkan, bisa jadi anggaran itu membengkak.

Sementara itu, pendapatan Multiply selama ini hanya datang dari biaya pembuatan toko online premium agar si penjual mendapat status "penjual tepercaya." Namun, pendapatan dari sektor ini kontribusinya masih sangat kecil.

Mati satu tumbuh seribu

Penutupan Multiply dinilai Andi akan memberi efek positif untuk industri e-commerce. Menurutnya, sumber daya manusia berkualitas para karyawan Multiply akan tersebar ke berbagai perusahaan e-commerce.

Selain itu, karyawan yang punya pengalaman "ngelotok" soal bisnis internet juga diharapkan bisa membangun perusahaan baru. Investor tentu akan lebih percaya kepada mereka yang sudah punya pengalaman menjalankan bisnis internet.

"Kondisi serupa saya alami ketika saya mundur dari Plasa.com dan tim awal yang pernah saya bentuk sekarang menjadi pemimpin di berbagai e-commerce dan perusahaan internet. Begitu pula ketika Yahoo membubarkan Koprol dan Detikcom diakuisisi Trans Corp. Industri makin berkembang karena adanya proliferasi talenta yang punya pengetahuan dan pengalaman tinggi," ujar Andi.

Multiply sendiri telah menggelar job fair kecil-kecilan pada awal Mei lalu sebagai langkah membantu 60 karyawannya untuk menemukan pekerjaan baru. Perusahaan lain dipersilakan merekrut karyawan Multiply.

Industri e-commerce di Indonesia masih dalam tahap pertumbuhan. Antonny berpendapat, para pelaku harus bersama-sama membangun kesadaran masyarakat agar mau berbelanja online. Insentif yang terukur diperlukan untuk mengedukasi pasar dan menarik perhatian.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X