Menyadap, Perusahaan Telekomunikasi Bisa Didenda Rp 800 Juta

Kompas.com - 19/11/2013, 14:21 WIB
Ilustrasi memasang alat penyadap di dalam sebuah telepon. www.nydailynews.com Ilustrasi memasang alat penyadap di dalam sebuah telepon.
Penulis Aditya Panji
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) akan menindak tegas jika ada perusahaan penyelenggara telekomunikasi yang terbukti membantu kegiatan penyadapan oleh Pemerintah Australia terhadap sejumlah pejabat Indonesia.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kemenkominfo, Gatot S Dewa Broto, mengatakan, sejauh ini belum terbukti kegiatan penyadapan tersebut dilakukan atas kerja sama dengan penyelenggara telekomunikasi di Indonesia.

“Namun jika kemudian terbukti, maka penyelenggara telekomunikasi yang bersangkutan dapat dikenai pidana yang diatur daam UU Tekomunikasi dan UU ITE,” kata Gatot dalam siaran pers yang diterima KompasTekno, Senin (18/11/2013).

Gatot mengatakan, Kemenkominfo tidak pernah memberi sertifikasi perangkat sadap dan antisadap kepada pihak lain, kecuali yang digunakan oleh lembaga penegak hukum.

Aksi penyadapan ini bertentangan dengan Pasal 40 UU No. 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, yang melarang setiap orang melakukan kegiatan penyadapan atas informasi yang disalurkan melalui jaringan telekomunikasi.

Penyadapan juga dilarang dalam Pasal 31 UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Menurut Gatot, penyadapan dimungkinkan untuk tujuan tertentu, tetapi harus mendapat izin dari aparat penegak hukum.

Ancaman pidana terhadap kegiatan penyadapan, sebagaimana diatur dalam Pasal 56 UU Telekomunikasi adalah kurungan penjara maksimal 15 tahun. Sementara di Pasal 47 UU ITE, hukuman maksimal atas kegiatan penyadapan adalah penjara 10 tahun atau denda paling banyak Rp 800 juta.

Gatot juga mengingatkan publik, segala kegiatan penyadapan, termasuk perakitan, perdagangan, dan penggunaan perangkat sadap merupakan bentuk pelanggaran hukum.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.