Dianggap Milik Yahudi, WhatsApp "Haram" di Iran

Kompas.com - 06/05/2014, 09:46 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.
|
EditorReza Wahyudi

KOMPAS.com - Pemerintah Iran pada Senin (5/5/2014) lalu mengambil kebijakan untuk melarang warga negaranya menggunakan layanan pesan instan WhatsApp. Diduga, Mark Zuckerberg, CEO Facebook, yang membeli WhatsApp sebagai penyebabnya.

Menurut Fox News (4/5/2014), rezim Iran yang saat ini berkuasa mengatakan bahwa WhatsApp kini dimiliki oleh seorang keturunan Yahudi, setelah Zuckerberg melalui Facebook mengakuisisi WhatsApp dua bulan lalu, dengan harga 19 miliar dollar AS.

"Alasan pelarangannya adalah asumsi bahwa WhatsApp kini dimiliki oleh pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, yang merupakan seorang zionis Amerika," ujar Kepala Komite Kejahatan Internet Iran Abdolsamad Khorramabadi.

Namun, selain isu zionisme, langkah yang diambil oleh pemerintah Iran tersebut dianggap sebagai bentuk ketakutan mereka terhadapa kekuatan media sosial.

Salah seorang bloger Iran mengatakan kepada Fox News bahwa Garda Revolusi melihat bahwa situs jejaring sosial sebagai ancaman.

"Pemerintah takut karena banyak pemuda Iran yang bisa bertukar informasi secara cepat," ujar bloger yang tidak ingin disebutkan namanya tersebut. "Khameini dan kroninya menyadari kekuatan ini setelah munculnya Green Movement," imbuhnya.

Green Movement atau juga disebut Twitter Revolution adalah protes yang dilakukan warga Iran pada Juni 2009 lalu. Protes ini digerakkan melalui jejaring sosial Twitter yang menentang hasil keputusan Pemilu Iran yang saat itu dimenangi oleh Mahmoud Ahmadinejad.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Warga Iran lebih mendukung kandidat dari partai oposisi, yaitu Hossein Mousavi dan Mehdi Karroubi. Protes yang terjadi di kota-kota besar Iran itu membuka mata dunia akan kekuatan jejaring sosial.

Twitter dan Facebook, media sosial yang digunakan untuk menggalang kekuatan protes, sejak saat itu mulai dilarang penggunaannya oleh pemerintah Iran.

Walau menuai kesuksesan, namun WhatsApp sering dijadikan sebagai kambing hitam, seperti yang terjadi di Timur Tengah. Pada Februari lalu, WhatsApp dituding oleh seorang rabi Israel sebagai penyebab utama hancurnya bisnis dan rumah-rumah warga Yahudi.

WhatsApp sendiri sudah memiliki 500 juta pengguna aktif global dan telah melayani 700 juta foto dan 100 juta video setiap harinya.

Pihak WhatsApp dan Facebook belum mengeluarkan pernyataan resmi mereka atas pemblokiran aplikasi mereka di Iran.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber foxnews
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.