OpenBTS Boleh seperti Balon Google, Ini Syarat dari Menkominfo

Kompas.com - 04/11/2015, 10:43 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara berbicara dalam acara penandatanganan nota kesepahaman di Google X, Mountain View,
Rabu (28/10/2015). Wicak Hidayat/KOMPAS.comMenteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara berbicara dalam acara penandatanganan nota kesepahaman di Google X, Mountain View, Rabu (28/10/2015).
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara menjawab kekecewaan pegiat open source Onno W. Purbo dan ICT Watch soal masuknya Project Loon ke Indonesia. Proyek milik Google itu akan dipakai untuk memancarkan sinyal komunikasi ke daerah-daerah terpencil.

Onno mengaku sebelumnya sempat menawarkan Open Base Transceiver Station (OpenBTS) sebagai solusi komunikasi di daerah terpencil. Namun tawaran itu tak digubris, bahkan setelah terbukti berhasil dijalankan selama dua tahun.

Chief RA, sapaan akrab Rudiantara menegaskan bahwa OpenBTS seperti itu boleh-boleh saja digunakan sebagai solusi akses internet di daerah terpencil Indonesia. Namun semua itu dikembalikan pada keputusan operator, sebagai pemilik frekuensi yang akan dimanfaatkan untuk solusi tersebut.

"Saya sih oke-oke saja dengan OpenBTS. Itu tergantung operator, jadi sama saja dengan Google karena memang menggunakan frekuensi milik operator," tegasnya saat ditemui KompasTekno di Gedung Kemenkominfo, Selasa (3/11/2015).

"Saya prinsipnya mau OpenBTS atau apa, yang penting bisa mempercepat penetrasi akses internet di Indonesia," imbuhnya.

Dia menambahkan jika memang OpenBTS digunakan sebagai salah satu solusi komunikasi di daerah terpencil mesti ada sejumlah hal yang diperhitungkan.

Diantaranya adalah membuat model interkoneksi yang diterapkan pada OpenBTS, karena peran BTS open source itu hanya sebagai penangkap dan penyalur sinyal. Sedangkan sinyal aslinya milik operator.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Solusi tersebut juga mesti memperhatikan kualitas layanan mereka, baik suara maupun teks dan data. Selain itu, harus dibuat model revenue sharing yang pas antara operator dengan OpenBTS.

"Karena yang ini (operator telekomunikasi) kan ada standar kualitas. Mungkin nanti solusinya OpenBTS boleh, tapi harus ada yang menjamin kualitasnya," imbuh Chief RA.

"Kalau hanya technical test saja sih nggak masalah, wong cuma tes saja. Dengan Google pun baru technical test, belum ada model bisnisnya dan belum tahu bayarnya berapa," pungkasnya.

Sebelumnya, Onno W. Purbo dan ICT Watch menyatakan kekecewaannya karena pemerintah cenderung mendorong kerja sama dengan Google, ketimbang mendorong solusi serupa yang ditawarkan rakyat.

Raksasa mesin pencari itu bekerja sama dengan Telkomsel, XL, dan Indosat untuk memancarkan gelombang internet di daerah terpencil. Mereka menggunakan balon pemancar internet menggunakan frekuensi 900 MHz.
 
Padahal di satu sisi sudah ada solusi OpenBTS, yang menurut Onno, sudah ditawarkan, diuji dan dipresentasikan ke pemerintah. Solusi ini pun sama, membutuhkan frekunsi 900 MHz, namun ternyata tak digubris dan dianggap melanggar aturan pemerintah.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.