Kompas.com - 02/12/2015, 13:35 WIB
Foto retakan di modul elektronik RTLU milik Airbus A320 AirAsia PK-AXC. Retakan ditunjukkan oleh anak panah putih di sebelah kanan atas. KNKTFoto retakan di modul elektronik RTLU milik Airbus A320 AirAsia PK-AXC. Retakan ditunjukkan oleh anak panah putih di sebelah kanan atas.
|
EditorReza Wahyudi
KOMPAS.com - Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyimpulkan bahwa retakan dalam modul elektronik Rudder Travel Limiter Unit (RTLU) menjadi salah satu faktor yang berkontribusi dalam kecelakaan pesawat Airbus A320 AirAsia QZ8501.

Faktor RTLU ini hanya satu dari sekian banyak faktor yang menyebabkan rentetan kejadian yang akhirnya mengakibatkan A320 PK-AXC tersebut jatuh pada 28 Desember 2014.

Dalam laporan yang dipublikasikan oleh KNKT, dan dikutip KompasTekno, Rabu (2/12/2015), terlihat salah satu modul elektronik pengontrol RTLU tersebut memiliki retakan panjang di sekeliling solderan di papan PCB (printed circuit board).

RTLU yang diambil dari reruntuhan pesawat A320 registrasi PK-AXC tersebut dikirim oleh KNKT ke biro penyelidik kecelakaan udara Perancis, BEA pada 16 Juni 2015.

Pemeriksaan papan sirkuit yang dilakukan oleh BEA menunjukkan bahwa papan sirkuit channel A dan B memiliki retakan dalam solderannya.

"Retakan tersebut bisa membuat aliran listrik tersendat-sendat dan membuat RTLU gagal berfungsi," demikian tulis laporan KNKT.

BEA menyimpulkan, keretakan tersebut bisa diakibatkan oleh siklus panas yang dihasilkan saat perangkat menyala dan dimatikan, serta perbedaan kondisi lingkunagn yang dialami selama di darat dan di udara.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Ketua Sub Komite Kecelakaan Pesawat Udara KNKT, Kapten Nurcahyo Utomo di kantor KNKT, Selasa (1/12/2015).

"Kondisi bagian ekor menjadi sangat panas saat di bandara dan sangat dingin ketika berada di udara, bahkan sampai berada di bawah 50 derajat celsius," demikian kata Nurcahyo.

Arus listrik yang tersendat-sendat dalam papan sirkuit yang mengontrol RTLU inilah yang memunculkan pesan di kokpit yang berulang-ulang.

Data FDR (flight data recorder) menunjukkan bahwa komputer penerbangan di-reset saat berada di udara dengan cara mencabut kedua sekring yang ada di kokpit setelah pesan peringatan RTLU muncul ke empat kalinya sepanjang penerbangan antara Surabaya-Singapura itu.

Dengan me-reset komputer penerbangan, beberapa proteksi terhadap attitude pesawat menjadi mati, termasuk proteksi yang menjaga agar pesawat tidak bergerak di luar batas kendali (upset condition).

Pesawat kemudian banking (miring) ke kiri dua kali hingga 54 derajat, dan sempat menanjak hingga ketinggain 38.000 kaki dengan sudut serang (angle of attack) tinggi, nyaris 50 derajat ke atas sehingga menyebabkan pesawat kehilangan daya angkat, fenomena yang disebut stall.

Sekali lagi, faktor modul elektronik RTLU yang rusak ini hanya satu dari sekian banyak faktor yang menyebabkan jatuhnya AirAsia QZ8501. Di belakangnya masih banyak lagi faktor lain yang berkontribusi.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.