Balon Internet Google Loon Mulai Diuji di Indonesia Tahun Ini

Kompas.com - 16/02/2016, 10:10 WIB
(kanan ke kiri) Pendiri Google Sergey Brin, Dirut Telkomsel Ririek Adriansyah, Dirut XL Axiata Dian Siswarini, Presdir Indosat Alexander Rusli, dan Mike Cassidy, Project Leader Project Loon di Google X dalam acara peresmian kesepakatan masuknya Google Loon ke Indonesia pada Mountain View, Rabu (28/10/2015). Wicak Hidayat/KOMPAS.com(kanan ke kiri) Pendiri Google Sergey Brin, Dirut Telkomsel Ririek Adriansyah, Dirut XL Axiata Dian Siswarini, Presdir Indosat Alexander Rusli, dan Mike Cassidy, Project Leader Project Loon di Google X dalam acara peresmian kesepakatan masuknya Google Loon ke Indonesia pada Mountain View, Rabu (28/10/2015).
|
EditorOik Yusuf
KOMPAS.com — Proyek Google Loon atau dikenal juga sebagai balon internet Google akan diuji coba di Indonesia tahun ini. Rencananya, balon tersebut akan dipakai menyebarkan koneksi internet ke daerah-daerah terpencil.

Namun, raksasa mesin pencari itu tidak bisa bergerak sendirian karena untuk memancarkan sinyal akses internet butuh alokasi frekuensi. Atas alasan ini, Google menggandeng para operator seluler yang memiliki lisensi pemakaian frekuensi di Indonesia.

Operator-operator seluler tersebut adalah Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL Axiata yang telah meresmikan kesepakatan dengan Google terkait proyek Google Loon di kantor Alphabet X (dulu Google X), Mountain View, California, Amerika Serikat, tahun lalu.

Hampir gagal

Ada cerita menarik di balik persiapan balon internet tersebut. Sebagaimana dilansir KompasTekno dari Recode, Selasa (16/2/2016), Google sebenarnya hampir gagal menyediakan balon yang cocok untuk mengemban tugas penyebaran internet.

Kesulitan terbesar raksasa mesin pencari itu adalah merancang balon yang murah sekaligus cukup tangguh. Terlebih lagi, balon akan dibiarkan mengambang dan bergerak ke titik-titik tertentu di stratosfer.

"Kami merusak banyak balon," ujar Kepala Alphabet X Astro Teller dalam konferensi TED di Kanada.

Dia mengatakan hal itu sambil menunjukkan sejumlah desain balon internet Google. Ada yang terlihat berkilauan, ada yang bulat, ada juga yang bentuknya serupa dengan bantal raksasa.

Namun, pencarian desain itu berakhir baik. Pihak Google akhirnya menemukan sebuah desain yang harganya murah sekaligus bisa digerakkan dengan presisi. Desain ini juga yang tahun lalu diuji dan berhasil mengelilingi dunia 19 kali selama 187 hari.

"Jadi akhirnya kami tetap melanjutkan. Ini akan mengubah dunia dengan cara yang tak terbayangkan," imbuh Teller.

Bisa "streaming" video

Koneksi internet yang dulunya lambat kini sudah cukup canggih dan bisa memberikan kecepatan transfer data sebesar 15 Mbps. Menurut Teller, angka itu sudah cukup untuk dipakai menyiarkan streaming video.

Selain di Indonesia, Google juga sudah sepakat dengan Pemerintah Sri Lanka dan akan memulai uji coba di sana. Mereka juga sedang bernegosiasi untuk menerapkan solusinya bersama sejumlah operator di seluruh dunia.

Menurut Teller, dalam waktu 5 hingga 10 tahun mendatang, proyek tersebut bakal membantu menghubungkan 5 miliar orang ke internet.



Sumber Recode
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X