Sentuh “Bagian Sensitif” Robot Ternyata Bisa Timbulkan "Rangsangan"

Kompas.com - 09/04/2016, 17:10 WIB
Penulis Oik Yusuf
|
EditorDeliusno


KOMPAS.com - Seperti manusia, menyentuh tubuh tertentu dari robot humanoid (yang dirancang supaya mirip orang) ternyata bisa memberikan “rangsangan” bagi pelakunya.

Itulah yang ditemukan lewat sebuah penelitian oleh tim riset dari Stanford University, California, AS, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari The Guardian, Sabtu (9/4/2016).

“Penelitian kami menunjukan bahwa orang-orang (para subyek dalam riset) ternyata merespons robot dalam cara yang sosial dan primitif,” ujar Jamy Li, insinyur mekanik Stanford yang memimpin riset tersebut.

Dalam penelitian, para subyek diminta menyentuh beberapa bagian tubuh sebuah robot humanoid dengan tangan dominan (tangan kanan, atau kiri untuk orang kidal).

Tangan lain dari partisipan dipasangi sensor yang mengukur perubahan fisiologis dari tubuh subyek dan kecepatan reaksi mereka.

Nah, para subyek ternyata menunjukkan peningkatan rangsangan emosional ketika diminta menyentuh “bagian sensitif” dari robot, seperti bokong.

Mereka juga menjadi sedikit ragu-ragu dan menunjukkan penurunan kecepatan reaksi ketimbang saat menyentuh bagian lain yang lebih terbuka, misalnya tangan si robot.

Salah seorang subyek -terdiri dari empat perempuan dan enam laki-laki- bahkan tak mau menyentuh bagian tertentu dari robot karena merasa kurang nyaman.

Meski semua partisipan tahu benar bahwa si robot adalah mesin dan bukan manusia, mereka tanpa sadar juga menganggapnya seperti orang, mungkin karena bentuknya mirip.

“Konvensi sosial mengenai sentuhan terhadap ‘bagian pribadi’ orang lain ternyata juga berlaku untuk tubuh robot. Riset ini bakal berimplikasi pada desain robot dan teori artificial intelligence,” imbuh Li.

Para peneliti tak mengkaji hal sebaliknya, yakni apa yang bakal terjadi kalau manusia yang disentuh oleh robot. Namun, Li berspekulasi bahwa seseorang mungkin akan mengalami “rangsangan fisiologis” apabila disentuh oleh robot di bagian sensitif.

Video ilustrasi penelitian yang dilakukan oleh Li dan kawan-kawan di Stanford bisa dilihat di bawah.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.