Google Assistant Digabung Google Lens Lahirkan 3 Pembeda dari Samsung Bixby

Kompas.com - 20/05/2017, 10:08 WIB
Product Management Director Google Assistant, Gummi Hafsteinsson, dalam sesi roundtable Google I/O 2017, Kamis (18/5/2017) di Partnerplex, Campus Google. Fatimah Kartini Bohang/Kompas.comProduct Management Director Google Assistant, Gummi Hafsteinsson, dalam sesi roundtable Google I/O 2017, Kamis (18/5/2017) di Partnerplex, Campus Google.
|
EditorReza Wahyudi

MOUNTAIN VIEW, KOMPAS.com - Ada beberapa pembaruan untuk Google Assistant yang diumbar pada “pesta” developer Google I/O 2017. Salah satunya, asisten digital tersebut sudah terintegrasi dengan teknologi anyar yang dinamai “Google Lens”.

Pada prinsipnya, kolaborasi Google Assistant dan Google Lens menghasilkan kemampuan yang serupa dengan asisten digital Bixby buatan Samsung. Keduanya sama-sama memanfaatkan artificial intelligence (AI) untuk memberikan informasi lebih tentang objek yang dipotret.

Misalnya saja ketika membidik plang sebuah restoran. Tak sekadar visualnya yang terhimpun, tetapi juga informasi lain seperti rating dan harga makanan di restoran tersebut.

Ditemui KompasTekno dalam sebuah sesi roundtable, Product Management Director Google Assistant, Gummi Hafsteinsson enggan disama-samakan dengan Bixby atau asisten digital lain yang beredar di pasaran.

Menurut dia, setidaknya ada tiga keunggulan Google Assistant dibandingkan Bixby. Pertama, Google Assistant memiliki cakupan massa yang lebih luas karena menyasar pengguna Android secara keseluruhan. Sementara itu, Bixby sejauh ini hanya akan bertengger pada lini smartphone Samsung yang notabene cakupannya lebih kecil.

“Saat ini kami sudah membangun Google Assistant untuk 100 juta pengguna Android. Kami tentu akan lebih unggul dalam skala cakupan pasar,” kata Hafsteinsson, Kamis (18/5/2017), di Partnerplex, Campus Google, Mountain View, Amerika Serikat.

Diketahui, pengguna Android secara keseluruhan dilaporkan sebanyak 2 miliar. Artinya, meski mendominasi pasar, Google Assistant masih harus berekspansi ke lebih banyak pengguna untuk benar-benar menyebut diri sebagai layanan “satu untuk semua”.

Kedua, Google Assistant ke depannya tak hanya bertengger secara terpisah di smartphone dan Google Home, tapi mengolaborasikan berbagai perangkat sehingga bisa dibilang sebagai realisasi Internet of Things (IoT).

“Kami bisa menghubungkan Google Assistant ke berbagai perangkat lain, tak cuma di smartphone, tapi di speaker dan perabot lainnya,” ia menjelaskan.

Google tengah bekerja sama dengan beberapa brand kawakan untuk memboyong fungsi Google Assistant ke ranah yang lebih luas. Dua di antara brand yang dimaksud adalah Sony dan JBL.

Ketiga, menurut Hafsteinsson, Google Assistant dibangun berbasis metode machine learning yang unik dari Google. Meski asisten digital lain juga memanfaatkan machine learning dan artificial intelligence, Hafsteinsson yakin dengan kekuatan pada keunikan sistem Google.

“Kami memungkinkan perbincangan yang benar-benar natural antara asisten dengan manusia,” ujarnya.

Dalam waktu dekat, Google Assistant bakal mendukung beberapa bahasa tambahan, namun belum termasuk Indonesia. Hafsteinsson berkilah satu bahasa membutuhkan proses yang ruwet. “Prosesnya sangat panjang dan sulit. Namun kami punya tim yang bekerja sangat keras untuk membawa pengalaman Google Assistant ke lebih banyak bahasa,” ia menuturkan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X