Kompas.com - 08/06/2017, 11:10 WIB
EditorReska K. Nistanto


Suara tawa pun menyambut kejatuhannya ke Bumi. "Saya berdiri di sana dan air mata mengalir. Saya merasa emosional, karena saya tidak bisa menanggung apa yang mereka semua katakan pada saya," katanya, menyalahkan kegagalan tersebut pada beban 500 kg pesawat.

Kemunduran itu mendorongnya untuk sukses, dan dia kemudian mengalihkan perhatiannya pada proyek baru. Kini dia membangun pesawat laut - juga dari bahan materi daur ulang - yang diyakininya cukup ringan untuk melayang ke angkasa.

Meski posisi desanya, di Prey Chhor, terletak 200 km dari lautan - namun setelah pesawat selesai dibangun, Long berencana untuk memindahkan prototipe itu ke Svay Rieng menggunakan truk dan menerbangkannya dari Sungai Waiko.

Dia memperkirakan bahwa model awal pesawat itu membutuhkan dana 10.000 dollar AS atau sekitar Rp 130 juta lebih untuk membangunnya.

Sampai sekarang dia sudah menghabiskan 3.000 dollar AS atau hampir Rp 40 juta untuk pesawat laut - bukan jumlah yang sedikit di negara di mana upah minimum adalah 153 dollar AS per bulan atau sekitar Rp 2 juta, dan sekitar 13,5 persen penduduk hidup di bawah garis kemiskinan.

Belum lagi, Long bisa membawa keluarganya berlibur ke luar negeri dengan mewah untuk uang sejumlah itu, namun bagi Long ini bukan hanya soal terbang. Ini soal membuat mungkin apa yang tidak mungkin.

"Saya tidak pernah terpikir menghabiskan uang untuk hal-hal lain," katanya. "Saya tidak pernah menyesalkan menghabiskan uang itu."

Selain orang-orang yang mencemoohnya, banyak insan di kawasan tersebut yang kagum dengan tetangga mereka yang eksentrik. "Saya belum pernah bertemu seseorang dengan ide seperti ini," kata Sin Sopheap, seorang penjual toko berusia 44 tahun.

"Buat saya ini tidak biasa," kata Man Phary, 29, yang mengelola restoran pinggir jalan dekat rumah Long, "karena bagi orang Kamboja, tidak ada orang (lain) yang akan melakukannya."

Khawatir keamanan

Istri Long, Hing Muoyheng, seorang penjual onderdil mobil berusia 29 tahun, mengatakan dia khawatir akan keamanan suaminya, apalagi karena mereka memiliki dua anak laki-laki yang masih mudah, namun dia tetap mendukung suaminya.

BBC Paen Long dengan pesawat rakitannya.
"Saya tidak tahu cara kerja pesawat dan tak punya keahlian apa pun untuk membantunya," katanya mengungkapkan kekhawatiran.

"Saya coba bertanya padanya beberapa kali karena saya takut, tapi dia bilang dia tidak akan mengalami bahaya apapun, jadi saya ikut saja rencananya."

Meski Long berharap untuk mengurangi risiko terhadap dirinya dan orang lain dengan menguji pesawatnya Juli nanti di atas air, namun dia sadar bahwa pesawat buatannya ini punya banyak variabel lain, banyak yang di luar kendalinya.

"Bahaya bukanlah sesuatu yang bisa kita prediksi," katanya.

Baca: Pendiri Microsoft Bikin Pesawat Terbesar di Dunia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.