BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dan Telkomsel

Mudik Cukup Bawa "Smartphone", Bisa untuk Belanja dan Tarik Uang Tunai

Kompas.com - 21/06/2017, 11:20 WIB
Ilustrasi transaksi non-tunai menggunakan smartphone. ThinkstockIlustrasi transaksi non-tunai menggunakan smartphone.
|
EditorPalupi Annisa Auliani


KOMPAS.com – 
Pekan ini, jutaan orang Indonesia bakal berbondong-bondong meninggalkan kota besar, termasuk Jakarta, untuk pulang ke kampung halaman. Istilahnya, musim mudik sudah tiba. Urusan uang pun bisa makin rumit.

Beragam persiapan harus dibuat untuk perjalanan yang sudah jadi semacam tradisi tersebut.  Pilihan moda transportasi, tempat menginap di kampung halaman, kudapan dan minuman untuk bekal perjalanan, serta pegangan uang tunai, masuk dalam daftar persiapan itu.

“Memutuskan mudik itu sudah satu paket pusingnya, dari mau pakai kendaraan apa, bawa apa buat orang rumah, sampai berapa uang yang harus disiapkan untuk segala keperluan selama perjalanan di kampung halaman,” ujar Anis, pekerja media yang setiap tahun menyempatkan diri mudik, Selasa (20/6/2017).

Khusus soal uang, persiapan bisa jadi satu cerita utama tersendiri. Lama waktu tempuh perjalanan yang tak lagi gampang diprediksi karena kepadatan lalu lintas dan jarak, menjadi penambah faktor komplikasi untuk urusan yang satu ini.

Perjalanan dengan rute yang sama pada musim mudik, bisa saja makan waktu dua kali lebih panjang dibandingkan bila dilakukan pada hari-hari lain. Jangan heran, pengeluaran selama perjalanan pun bisa bengkak.

Masalahnya, membawa uang tunai dalam jumlah besar untuk perjalanan jelas bukan rencana bijak. Risiko kehilangan karena lalai atau kriminalitas bisa jadi ancaman tambahan bila kemana-mana bawa segepok duit.

Thinkstock Ilustrasi internet of things.

Pada kondisi semacam ini, uang elektronik atau uang digital bisa jadi pilihan. Selain tak menambah volume ruang simpan, fleksibelitas dan meminimalkan risiko kehilangan merupakan alasan penguat untuk memilih uang digital.

Terlebih lagi, teknologi terkini memungkinkan uang digital diakses lewat lebih banyak cara. Sekarang, berbelanja dengan uang elektronik tak berarti menambah jejalan kartu debit atau kartu kredit di dompet.

Telepon genggam yang dulu hanya buat telepon dan bertukar pesan singkat, belakangan juga punya fungsi tambahan menjadi medium penyimpan cadangan uang. Wujudnya dari layanan mobile perbankan sampai aplikasi dari provider telekomunikasi.

T-Cash dari Telkomsel, misalnya, memungkinkan pengguna layanan telekomunikasi seluler ini membayar transaksi di sejumlah toko ritel,  membeli pulsa, membayar listrik, hingga menarik tunai di fasilitas perbankan.

Uang yang bisa “disimpan” di ponsel pintar memakai fasilitas ini pun lumayan, sampai Rp 10 juta. Modalnya ya hanya ponsel pintar dan aplikasi T-Cash terpasang di dalamnya. Informasi lengkapnya bisa didapatkan di sini.

Jelas, belanja di pasar dan pertokoan di kampung halaman yang penuh kenangan pun tak perlu selalu menenteng dompet tebal. Saat dompet lupa dibawa, panik tak perlu juga datang.

Pada dasarnya, jauh-jauh hari, tren teknologi digital yang sampai menyentuh ranah perduitan seperti ini sudah diramalkan ekonom Amerika, Robert Reich.

Seperti dikutip CBSNews.com pada Kamis (24/12/2015), Reich pernah berujar, “There will be a time - I don't know when, I can't give you a date - when physical money is just going to cease to exist.”

Menurut Reich, isyarat “kematian” uang dalam bentuk fisik sudah menguat sejak berbagai kartu debit dan kartu kredit menjadi alat untuk bertransaksi.

Nah, setidaknya satu persoalan terkait persiapan mudik sudah punya alternatif solusi, bukan?

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya