Facebook dan YouTube Hapus Video Penembakan di Selandia Baru

Kompas.com - 15/03/2019, 17:41 WIB
Ilustrasi penembakan Ilustrasi penembakan

KOMPAS.com - Insiden penembakan di sebuah masjid yang terjadi di Selandia Baru membuat Facebook dan YouTube bertindak cepat. Pasalnya pelaku aksi terorisme ini merekam aksi brutalnya secara langsung dan menyebar dengan cepat di media sosial.

Menurut keterangan Facebook, pihaknya telah menghapus rekaman-rekaman video insiden tersebut dan menarik semua postingan yang berisi pujian atau dukungan pada aksi penembakan ini.

"Polisi Selandia Baru memberi tahu kami mengenai sebuah video yang disiarkan secara langsung di Facebook dan kami menghapus keduanya, akun pelaku penembakan dan videonya," kata Mia Garlick, perwakilan Facebook di Selandia Baru.

"Kami juga menghapus semua postingan yang berisi pujian atau dukungan untuk kejahatan ini. Kami juga terus bekerja dengan polisi Selandia Baru untuk penyelidikan lebih lanjut," ungkapnya.

Baca juga: Kominfo Imbau Masyarakat Tak Sebarkan Video Penembakan Selandia Baru

Situs video streaming YouTube pun bertindak serupa. Melalui akun Twitter resminya YouTube menyatakan akan menghapus semua rekaman yang berkaitan dengan insiden ini.

"Hati kita hancur karena tragedi mengerikan hari ini di Selandia baru. Ketahuilah, bahwa kami bekerja dengan waspada untuk menghapus rekaman kekerasan apa pun," tulis YouTube lewat akun Twitternya.

Insiden ini terjadi saat umat muslim di Selandia Baru melakukan ibadah solat Jumat. Insiden ini merenggut sebanyak 40 korban jiwa.

Dikutip KompasTekno dari Cnet, Jumat (15/3/2019), Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern mengatakan dalam konferensi pers bahwa insiden penembakan ini menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah Selandia Baru.

Penembakan ini diperkirakan terjadi pukul 13.40 waktu setempat. Beberapa jam setelah penembakan, polisi mengatakan empat orang, terdiri dari tiga pria dan satu perempuan, telah ditangkap.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern juga menyatakan, bom ditemukan telah terpasang di mobil teroris dan segera dinonaktifkan militer.

Salah seorang di antara empat orang yang ditangkap, menurut PM Australia Scott Morrison, adalah warga negaranya dengan media merilis identitasnya sebagai Brenton Tarrant.

Salah seorang teroris dalam manifestonya berkata dia berusia 28 tahun dan sengaja datang dari Australia untuk melakukan aksinya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X