Upaya Xiaomi Menembus 5 Besar di Indonesia

Kompas.com - 14/07/2019, 15:08 WIB
Logo Xiaomi terpajang di kantor pusat Xiaomi Indonesia yang terletak di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta.YUDHA PRATOMO/KOMPAS.com Logo Xiaomi terpajang di kantor pusat Xiaomi Indonesia yang terletak di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

KOMPAS.com - Pada tahun 2014, Xiaomi untuk pertama kalinya menjejakkan kaki di Indonesia. Vendor smartphone asal China ini membawa Redmi 1S sebagai perangkat pertamanya yang dipasarkan di Tanah Air.

Dalam kurun waktu lima tahun, Xiaomi berhasil mengambil hati para pengguna smartphone di Indonesia. Dengan banderol harga yang lebih rendah tapi disertai spesifikasi mumpuni membuat merek ponsel ini semakin dicintai penggunanya.

Berdasarkan laporan, Xiaomi kini tengah menduduki peringkat kedua sebagai ponsel dengan market share terbesar di Indonesia. Samsung masih berada di peringkat pertama sementara di belakang Xiaomi ada dua merek China lainnya yakni Oppo dan Vivo.

Dalam waktu lima tahun, Xiaomi tak hanya berhasil menembus lima besar vendor smartphone di Indonesia, tetapi juga berhasil memberi tekanan pada Samsung yang berada peringkat teratas. Hal ini tentu mengundang pertanyaan, bagaimana bisa Xiaomi melakukan ini?

Baca juga: VIK Pasar Mewah Ponsel Murah, Memahami Pasar Smartphone Indonesia

Menurut analis IDC Indonesia, Risky Febrian, Xiaomi memang baru terlihat lebih gencar memasarkan produknya pada 2018 lalu. Xiaomi merilis ponsel Redmi 5A dengan harga yang kompetitif sehingga membuat vendor lain harus berupaya membuat lawan yang sepadan untuk produk tersebut.

"Mereka memperkenalkan Redmi 5A. Titik itu mengubah skema persaingan di masing-masing segmen. Mulanya vendor berlumba membuat produk di kelas menengah, akhirnya mereka kembali lagi fokus ke segmen low-end, karena melihat Xiaomi mengancam di segmen ini," ungkap Risky.

Risky menambahkan, apa yang dilakukan Xiaomi dengan meluncurkan Redmi 5A membuat terjadinya disrupsi di pasar low-end dan ultra low-end. Pasalnya, ponsel Redmi 5A memang benar-benar memaksa vendor lain untuk kembali ke segmen yang lebih rendah ketimbang menengah dan atas.

"Kalau tidak, kebanyakan vendor akan kehilangan pangsa pasarnya," tambah Risky.

Senada dengan Risky, Stephanie Sicilia, Head of Public Relations Xiaomi Indonesia menilai bahwa pasar low-end masih memiliki daya tarik tersendiri di mata para konsumen.

"Beberapa perusahaan riset menyatakan bahwa permintaan terbesar masih dipegang oleh produk low-end dengan harga di bawah 200 dollar AS dan smartphone mid-range dengna harga 200 dollar AS hingga 400 dollar AS," ungkap Stephanie kepada KompasTekno.

"Sejalan dengan nilai dan strategi bisnis kami, kami selalu menyesuaikan dengan tren teknologi dan berkomitmen memberikan variasi produk di masa mendatang supaya memenuhi kebutuhan konsumen di Indonesia," lanjutnya.

Memengaruhi pasar

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X