Di Indonesia, "Buzzer" Jadi Orang Bayaran

Telegraph.co.uk

Ilustrasi
Telegraph.co.uk
Ilustrasi

KOMPAS.com — Di Jakarta, "buzzer" adalah pengguna Twitter dengan pengikut berjumlah 2.000 atau lebih yang dibayar untuk mempromosikan produk tertentu lewat rangkaian tweet.

Membayar buzzer untuk kepentingan iklan adalah hal yang lumrah dilakukan saat ini. Biasanya yang dijadikan buzzer adalah para selebritis yang berpengaruh.

Dalam hal ini, seperti dilaporkan oleh Reuters, Indonesia memiliki keunikan karena di sini para pengiklan tak hanya memanfaatkan jasa para selebritis, tetapi juga turut menyasar "orang biasa" atau anggota masyarakat pada umumnya untuk menjalankan promosi lewat Twitter.

Untuk pengiklan, pesan yang disalurkan lewat buzzer dapat menyasar target audience yang spesifik, yang memiliki ketertarikan sama dengan buzzer yang bersangkutan. Seorang pakar fotografi, misalnya, merupakan buzzer yang cocok untuk perusahaan kamera.

Para buzzer ini mengirimkan rangkaian tweet pendek berisi pesan sponsor agar dibaca oleh para pengikut mereka. Biasanya hal tersebut dilakukan saat jam sibuk antara pukul 4 hingga 8 pagi dan 7 hingga 10 malam, ketika para pengguna Twitter banyak yang sedang terjebak macet dan memantau update tweet di dalam kendaraan.

Jakarta, Ibu Kota Indonesia, memiliki jumlah pengguna Twitter terbesar di antara kota-kota lain di seluruh dunia, menurut lembaga riset pasar media sosial Semiocast.

Indonesia sendiri merupakan negara dengan penduduk terbanyak ke-4 di dunia, dengan separuh populasi berumur kurang dari 30 tahun sehingga merupakan lokasi yang ideal untuk menjalankan kampanye media sosial.

Bisa dibeli

Namun, apakah kampanye lewat Twitter tersebut berjalan dengan efektif? Menurut kepala divisi kopi PT Nestle Indonesia Patrick Stillhart, hal yang satu ini sulit diukur selain dengan metode kuantitatif, yaitu menghitung jumlah follower, jumlah "like", dan banyaknya klik yang didapat.
"Pertanyaannya adalah bagaimana kita menghubungkan hal-hal tersebut dengan brand dan penjualan," ujarnya.

Thomas Crampton dari firma periklanan Ogilvy juga menjelaskan bahwa follower bisa membentuk persepsi negatif terhadap buzzer, dengan menganggap bahwa orang yang bersangkutan hanya mengiklankan sesuatu karena dibayar dengan uang.

"Follower akan memandang bahwa orang ini (buzzer) bisa dibeli. Sama halnya seperti berbicara dengan teman. Ketika teman Anda dibayar untuk mengatakan sesuatu pada Anda, maka ada dua kemungkinan: pertama Anda tidak akan menganggap dia sebagai teman, atau yang kedua, Anda tidak akan percaya apa yang dia katakan," papar Crampton.

Sumber: Reuters
Editor: Reza Wahyudi

 

TERBARU
Internet
Selasa, 26 Mei 2015 19.20 WIB
Secangkir Kopi Jelang Dini Hari
e-Business
Selasa, 26 Mei 2015 17.15 WIB
Uber Sediakan "Supercar" Gratis Keliling Jakarta
Software
Selasa, 26 Mei 2015 16.35 WIB
"Malware" Penyandera Data Beredar di Indonesia
e-Business
Selasa, 26 Mei 2015 16.19 WIB
2014, Lenovo Jual 822.800 PC di Indonesia
e-Business
Selasa, 26 Mei 2015 14.46 WIB
Bonus CEO BlackBerry Tersisa Rp 44 Miliar
TERPOPULER
Rabu, 20 Mei 2015 07.59 WIB
Xiaomi Bandingkan Mi 4i dengan iPhone 6
Kamis, 21 Mei 2015 13.13 WIB
Menjajal dan Melihat dari Dekat Xiaomi Mi 4i
Jumat, 22 Mei 2015 15.56 WIB
Inikah Tampang Penerus iPhone 6?
Selasa, 26 Mei 2015 11.53 WIB
Di Indonesia, Xiaomi Mi4i Ludes dalam 11 Menit
Kamis, 21 Mei 2015 08.29 WIB
Google Maps Dicemari Rasisme Terselubung
Sabtu, 23 Mei 2015 08.36 WIB
Inikah Browser yang Jadi Alat Mata-mata?
Rabu, 20 Mei 2015 10.32 WIB
Xiaomi Mi 4i Belum Dukung 4G LTE Indonesia