Amazon Pamer Speaker yang Bisa Diajak Bicara - Kompas.com

Amazon Pamer Speaker yang Bisa Diajak Bicara

Yoga Hastyadi Widiartanto
Kompas.com - 11/04/2017, 12:03 WIB
Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.com Alex Smith, Media and Entertainment Solution Architect, AWS APAC
Singapura, KOMPAS.com - Amazon Web Service (AWS) memamerkan teknologi kecerdasan buatan berbasis cloud milik mereka di ajang Hackday 2017 di Singapura. Teknologi tersebut bisa dipakai untuk mengenali wajah orang, hingga membuat dialek bahasa untuk robot.
 
Alex Smith, Media and Entertainment Solution Architect, AWS APAC menjelaskan bahwa teknologi kecerdasan buatan itu terdiri dari sejumlah layanan berbeda dan bisa dikombinasikan sesuai kebutuhan.
 
Kemampuan yang ditunjukkan Amazon antara lain teknologi Amazon Lex, software pembuatan chatbot atau robot yang bisa menjawab pertanyaan orang; dan Amazon Polly, yakni software untuk memberi aksen atau dialek dalam kata-kata yang diucapkan oleh chatbot.

Selain itu, ada pulaAmazon Rekognition untuk mengenali wajah, objek atau isi sebuah foto.

Speaker yang bisa diperintah

 
Soal Amazon Lex dan Polly, Alex mencontohkannya melalui gadget bernama Amazon Echo. Ini merupakan sebuah speaker pintar yang terhubung dengan cloud dan bisa merespon kata-kata atau perintah penggunanya.
 
“Alexa. Read Singapore Wikipedia,” ujarnya memberikan perintah pada Echo.
 
Echo yang ada di hadapan jurnalis pun merespon dengan membacakan sebuah keterangan umum mengenai Singapura, seperti nama resmi dan lokasinya. Jika diperintahkan untuk berhenti, maka speaker mungil itu akan berhenti membaca meski keterangan belum lengkap.
 
Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.com Amazon Echo, speaker pintar yang bertumpu pada layanan Amazon Lex dan Polly.
“Kemampuan inilah yang antara lain diperoleh dari Amazon Lex dan Polly. Lex memahami teks dan megubahnya menjadi suara, lalu Polly membuat suara yang keluar itu bisa menyesuaikan aksen bahasa atau dialek tertentu,” terang Alex.

Pengenal wajah

 
Hal menarik lain dari kecerdasan buatan yang sedang dikembangkan oleh Amazon adalah Rekognition, yakni soal kemampuan mengenali objek dan wajah. Contohnya saat menjajaran foto berisi wajah orang dan buah-buahan, maka software tersebut sanggup memilah mana yang merupakan wajah orang dan mana yang merupakan objek buah.
 
Software juga memberikan indikator mengenai seberapa tingkat keyakinan bahwa bagian yang ditunjukkan benar-benar wajah dan buah, bahkan bisa mengindikasikan apakah orang dalam foto tersebut sedang tersenyum atau tidak.
 
Contoh tersebut hanya kemampuan dasar dari Rekognition. Pada tahap pengembangannya, software yang berbasis cloud ini toh bisa dipadukan dengan berbagai kebutuhan lain.
 
“Misalnya untuk membuat sistem akses VIP berdasarkan pengenalan wajah. Rekognition bisa dipakai untuk mengembangkan alat pembanding wajah, dari foto ke foto,” terang Alex.
 
“Jadi foto orang yang datang bisa dibandingkan dengan yang foto tersimpan di database, lalu software ini akan menunjukkan apakah keduanya orang yang sama. Perbandingan ini tetap bisa dilakukan meski pose orang itu berubah atau kondisi pencahayaan berbeda,” imbuhnya.
 
Salah satu kunci kemampuan pengenalan ini, menurut Alex, adalah kemampuan Rekognition untuk mengenali titik-titik pada wajah serta mengenali perbedaan atau persamaannya.

Layanan mirip Lego

 
Ketiga kecerdasan buatan itu bakal terus berkembang. Pasalnya di balik ketiganya ada juga teknologi machine learning, yakni algoritma yang membuat komputer bisa belajar dan makin cerdas seiring semakin banyak data yang diolahnya.
 
Selain itu, kecerdasan buatan tersebut merupakan layanan yang terbuka untuk disewa oleh siapapun dan dikombinasikan dengan layanan AWS lainnya.
 
“Layanan yang kami sediakan itu mirip lego. Bisa dipakai untuk membangun apa pun. Kami tidak memberi tuntunan cara membuatnya, tapi menyediakan layanan yang bisa dikombinasikan sesuai kebutuhan,” pungkas Alex.

PenulisYoga Hastyadi Widiartanto
EditorReska K. Nistanto
Komentar
Close Ads X