Sri Lanka, Bukti Banyaknya Uang Apple - Kompas.com

Sri Lanka, Bukti Banyaknya Uang Apple

Reska K. Nistanto
Kompas.com - 17/04/2017, 15:06 WIB
KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN Suasana Kota Kandy di Sri Lanka.

KOMPAS.com - Apple baru saja merilis laporan keuangan kuartal I tahun 2017. Dalam laporan tersebut, diketahui bahwa Apple memiliki uang tunai berjumlah 246,09 miliar dollar AS atau sekitar 3.266 triliun.

Jumlah tersebut, dikutip KompasTekno dari CNBC, Senin (17/4/2017), naik 8,49 miliar dollar AS dari periode yang sama tahun lalu.

Dengan jumlah uang tunai sebanyak itu, Apple secara teori bisa membeli negara Sri Lanka. Menurut data yang dilansir oleh CIA, gross domestic product (GDP) Sri Lanka pada 2016 lalu adalah sebesar 237,8 miliar dollar AS.

Di bawah Sri Lanka, masih ada negara-negara seperti Finlandia, Selandia Baru, Bulgaria, dan sebagainya.

Lebih lanjut tentang nilai GDP negara-negara di dunia bisa diakses di situs CIA di tautan berikut ini.

Jumlah uang tunai yang dimiliki Apple selama ini memunculkan spekulasi akan akuisisi perusahaan lain.

Namun jika mengacu kepada data nilai perusahaan, uang tunai Apple itu belum bisa digunakan untuk membeli Microsoft. Perusahaan software yang didirikan oleh Bill Gates itu saat ini memiliki valuasi sekitar 500 miliar dollar AS.

Saat ini, sebagian besar uang Apple disimpan di luar Amerika Serikat (AS) untuk menghindari pajak. Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan wacana untuk mengubah peraturan repatriasi uang tunai yang disimpan di luar AS.

Hal itu diharapkan bisa mempermudah Apple saat menggunakan uangnya untuk akuisisi, tanpa terkena pajak yang tinggi.

Dari mana Apple memiliki uang kas sebesar itu, sebagian besar berasal dari penjualan smartphone, tablet, komputer, dan pemutar musik.

Penjualan iPhone sendiri dalam laporan keuangan Apple, melebihi perkiraan Wall Street. Saham Apple pun terdongkrak lebih dari tiga persen, dengan jumlah transaksi lebih dari 6,8 juta lembar saham yang berganti tangan.

Baca: Apple Pilih BSD Tangerang Jadi Pusat Riset Pertama di Indonesia

PenulisReska K. Nistanto
EditorDeliusno
SumberCNBC,
Komentar
Close Ads X