Salin Artikel

WhatsApp Jelaskan Kembali Kebijakan Berbagi Data dengan Facebook

Kebijakan privasi yang diperbarui ini menyangkut fitur yang memungkinkan pengguna berinteraksi dengan perusahaan yang menggunakan layanan bisnis WhatsApp.

Atas kebijakan baru ini, WhatsApp memberi ultimatum ke seluruh penggunanya. Pengguna diminta untuk menyetujui klausul kebijakan privasi baru itu.

Jika tidak setuju pengguna dianjurkan untuk menghapus WhatsApp. Sebab, jika tidak menyetujui kebijakan baru itu, WhatsApp tidak akan bisa digunakan lagi.

Pembaruan kebijakan WhatsApp ini menimbulkan kebingungan di tengah pengguna WhatsApp, mereka menganggap data percakapan mereka bisa diintip oleh Facebook.

Namun, yang terjadi bukanlah seperti yang disangka pengguna, demikian menurut pihak WhatsApp.

WhatsApp APAC Communications Director, Sravanthi Dev menjelaskan bahwa update tersebut sebenarnya untuk memfasilitasi perusahaan yang menggunakan API WhatsApp, atau yang terhubung dengan layanan analitik seperti yang dimiliki Facebook.

Sravanthi menjelaskan, WhatsApp memiliki dua macam layanan bisnis, yang pertama adalah WhatsApp Business untuk pengguna kebanyakan, dan bisnis layanan API (Application Programming Interface) untuk perusahaan-perusahaan besar.

Perusahaan besar yang ingin berinteraksi dengan konsumennya melalui WhatsApp, bisa menggunakan API ini. Misalkan perusahaan seperti operator seluler, maskapai penerbangan, atau perusahaan e-commerce.

Dengan adanya pihak ketiga, yakni perusahaan yang menggunakan API WhatsApp, maka yang terjadi adalah data pengguna dan percakapan tadi tersimpan di server milik perusahaan yang memakai API WhatsApp tadi.

Data tersebut bisa diolah oleh perusahaan itu sendiri, atau oleh pihak lain, untuk memberikan layanan yang maksimal, atau untuk memahami kebutuhan pelanggan mereka dengan lebih baik.

Selain itu, WhatsApp juga diketahui telah menggunakan infrastruktur back-end milik Facebook, untuk layanan seperti analitik bagi perusahaan yang membutuhkan. Tentunya data pengguna WhatsApp ini juga bakal dikelola oleh Facebook.

Karena itulah, pengguna diminta untuk menyetujui syarat kebijakan privasi baru ini.

Meski demikian, Sravanthi menjelaskan bahwa data yang tersimpan di server perusahaan pihak ketiga ini tetap aman, perusahaan tidak bisa membaca percakapan atau file-file yang dikirim melalui WhatsApp.

"Kami memiliki persyaratan yang ketat untuk menyetujui seseorang (perusahaan) menggunakan API kami, perusahaan harus memiliki standar praktis yang tinggi," ujar Sravanthi kepada KompasTekno, pekan ini.

WhatsApp juga dikatakan Sravanthi memiliki daftar perusahaan-perusahaan berikut bagaimana cara mereka mengelola data.

Yang perlu dipahami adalah, saat pengguna WhatsApp berinteraksi dengan perusahaan pengguna API WhatsApp, maka percakapan itu tidak lagi terenkripsi end-to-end, karena secara teknis percakapan itu disimpan di cloud.

Enkripsi itu bisa jadi hanya terdapat di satu sisi, yakni di server milik perusahaan pihak ketiga.

Sebagai contoh, jika seseorang memutuskan untuk berinteraksi dengan operator seluler yang menggunakan API WhatsApp, dan operator seluler itu menggunakan layanan analitik Facebook, maka percakapan itu tidak lagi terenkripsi secara end-to-end.

"Jika Anda memutuskan demikian (berinteraksi dengan perusahaan lewat WhatsApp), maka di jendela percakapan bagian atas akan tertulis bahwa percakapan ini melibatkan bisnis yang menggunakan layanan hosting Facebook, sehingga tidak terenkripsi end-to-end," jelas Sravanthi.

Percakapan antar-akun pribadi dan percakapan dengan aplikasi WhatsApp Business yang dipakai oleh bisnis skala kecil, tetap dilindungi dengan enkripsi end-to-end. Informasi ini juga akan tertera di bagian atas percakapan.

Lantas, apa yang terjadi jika pengguna WhatsApp menolak menyetujui persyaratan kebijakan privasi baru ini? Sravanthi secara tegas menjawab, pengguna tidak bisa lagi menggunakan WhatsApp.

"Semua terserah Anda (pengguna WhatsApp), apakah ingin berinteraksi dengan bisnis (perusahaan yang menggunakan API WhatsApp) atau tidak," kata Sravanthi.

Jika memutuskan bersedia berkomunikasi dengan perusahaan, maka yang terjadi adalah seperti penjelasan di atas.

Pengguna WhatsApp tetap memiliki opsi opt-out (tidak menerima) untuk menolak membagi data dengan Facebook, selama 30 hari. Sama seperti saat kebijakan pada 2016 lalu.

https://tekno.kompas.com/read/2021/02/19/08003747/whatsapp-jelaskan-kembali-kebijakan-berbagi-data-dengan-facebook

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.