Salin Artikel

2 Ancaman Keamanan Siber Saat Bekerja dari Rumah

Menurut laporan Cisco, 52 persen perusahaan di Indonesia memberlakukan WFH selama pandemi. Namun menurut Cisco, sistem WFH ini ternyata tak luput dari ancaman serangan siber.

Cisco memaparkan setidaknya ada dua hal yang menjadi ancaman keamanan siber terbesar yang dihadapi perusahaan Tanah Air.

Pertama adalah secure access atau akses ke jaringan atau aplikasi yang digunakan perusahaan. Kedua adalah data pribadi, seperti data penting perusahaan atau data pelanggan. Cisco mencatat sebanyak 70 persen perusahaan menghadapi dua tantangan tersebut.

Tantangan kedua adalah proteksi terhadap malware yang dihadapi oleh 63 persen perusahaan di Indonesia.

Cisco juga mencatat adanya tantangan untuk melindungi beberapa endpoint yang cukup rentan mendapat serangan siber selama WFH, yakni laptop atau desktop kantor, aplikasi cloud, informasi pelanggan, dan perangkat pribadi.

"Sekarang dengan bekerja dari luar, semakin banyak karyawan menggunakan perangkat pribadi yang tidak diprogram perusahaan dan bukan menjadi aset perusahaan, misalnya laptop atau ponsel pribadi. Hal itu meningkatkan juga risiko keamanan siber," jelas Marina Kacaribu, Managing Director Cisco System Indonesia dalam acara temu media secara virtual, Kamis (25/2/2021).

Ada beberapa penyebab yang membuat perusahaan lengah terhadap ancaman keamanan siber. Pertama adalah kurangnya pemahaman oleh karyawan terhadap keamanan siber. Hal ini menuntut perusahaan untuk memberikan edukasi yang cukup.

Kedua adalah inconsistent interface, karena perusahaan biasanya cenderung reaktif jika menemukan masalah keamanan. Hal ini menyebabkan solusi keamanan yang digunakan berubah-ubah dan cenderung tidak konsisten.

Penyebab terakhir adalah kurangnya kemampuan perusahaan untuk melihat potensi ancaman siber, terutama jika masalah yang dihadapi sudah semakin kompleks.

Cara mengatasi

Cisco merekomendasikan empat cara untuk mengatasi ancaman siber di perusahaan selama WFH. Pertama adalah menggunakan strategi zero-trust.

Sederhananya, zero-trust adalah strategi untuk tidak mempercayai siapapun yang melintas ke jaringan data center untuk mecegah potensi keaman. Strategi ini berguna untuk memverifikasiidentitas pengguna sebelum mengakses data perusahaan.

"Kita harus memastikan bahwa pengguna sebenarnya mengunakan perangkat yang tepat, menggunakan jaringan yang tepat dan mengakses aplikasi yang tepat. Strategi ini bisa melindungi pekerja, beban kerja, dan juga perusahaan," jelas Juan Huat Koo, Cisco Director of Cybersecurity for ASEAN.

Kedua, adalah menggunakan multi-factor authentication (MFA) yang berguna untuk membarikan pelindungan berlapis terhadap siapapun yang hendak mengakses jaringan atau aplikasi perusahaan.

Ketiga, adalah menggunakan VPN untuk memastikan hanya pengguna terverifikasi yang boleh mengakses data penting. Terakhir, perusahaan diimbau meggunakan sistem e-mail dengan keamanan yang lebih terpercaya, seperti Office 365.

"Banyak phising dan malware yang dikirimkan lewat e-mail. Sehingga pengguna harus memiliki pelindungan ekstra," imbuh Juan.

https://tekno.kompas.com/read/2021/02/25/19020077/2-ancaman-keamanan-siber-saat-bekerja-dari-rumah

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.