Internet Indonesia Maju, Cuma Akan Untungkan Pihak Asing?

Kompas.com - 05/12/2014, 11:29 WIB
|
EditorReza Wahyudi
YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia disebut sebagai salah satu negara penyumbang data dan pemasukan terbesar bagi perusahaan-perusahaan teknologi informasi (TI) besar di dunia, seperti Google, Facebook, dan YouTube.

Lalu lintas internet yang berasal dari Indonesia ke luar negeri juga disebut lebih besar dari lalu lintas bandwidth yang berputar di dalam negeri.

Jika kondisi ini terus berlangsung, dikhawatirkan, pembangunan infrastruktur jaringan internet yang di Indonesia justru akan memperlancar lalu lintas untuk perusahaan-perusahaan teknologi asing.

Dirjen Aplikasi dan Informatika (Aptika) Kemkominfo Bambang Dwi Anggono menceritakan, Indonesia punya tantangan untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap situs-situs internet luar, apalagi Google.

Ia mengatakan, dengan pertumbuhan perangkat mobile yang tinggi, Indonesia kini menjadi salah satu penyuplai dalam jumlah tinggi terhadap data global (salah satunya untuk Google).

Baca juga: Internet Indonesia Sekadar Pasar, Rp 15 Triliun Lari ke Pihak Asing

"Pada tahun 2013, jumlah penduduk Indonesia sekitar 249 juta jiwa. Namun, pengguna seluler sudah mencapai 290 juta jiwa," kata Bambang saat dijumpai KompasTekno di sela acara Konferensi Big Data Indonesia 2014 di Yogyakarta, Kamis (4/12/2014).

Diceritakan juga oleh Bambang, jika pada awal tahun 2000 lalu Indonesia hanya menjadi pengunduh, sejak tahun 2006 ke atas, pengguna internet di Indonesia sudah banyak yang mulai mengunggah data. Hal itu dipicu oleh kepopuleran layanan seperti Facebook dan YouTube.

Bambang juga mengatakan, jumlah pengguna smartphone di Indonesia pada tahun 2006/2007 lalu hanya berkisar 30 persen dari pengguna seluler. "Namun, keadaannya kini berbalik. Pengguna smartphone di Indonesia sudah mencapai 70 persen," katanya.

Pertumbuhan pengguna smartphone yang tinggi itu juga menjadi pemicu tingginya data yang diunggah oleh pengguna internet di Indonesia.

Dalam hal paket layanan internet, Bambang mengatakan bahwa, konsumen di Indonesia mendapat paket 2,5 hingga 3 GB dengan harga Rp 100.000-Rp 200.000. Namun, di luar negeri, pelanggan akan mendapatkan kapasitas yang lebih besar dengan harga yang sama.

"Karena itu, jika ketergantungan terhadap situs internet luar dan data yang disumbangkan oleh pengguna internet di Indonesia terus seperti ini, maka infrastruktur internet yang dibangun di Indonesia hanya akan memperlancar traffic ke perusahaan asing," demikian kata Bambang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.