Apa Itu Android One, Sekadar Ponsel Murah?

Kompas.com - 04/02/2015, 13:34 WIB
Tiga model ponsel Android One Indonesia dari Evercoss, Mito, dan Nexian android.comTiga model ponsel Android One Indonesia dari Evercoss, Mito, dan Nexian
|
EditorReza Wahyudi
KOMPAS.com - Apa yang terjadi jika seluruh orang di lokasi mana pun, bisa mengakses teknologi juga informasi-informasi terbaru di dunia? Proyek Android One adalah cara Google untuk menjawab pertanyaan tersebut.

"Orang-orang di masa ini online dan mengakses informasi menggunakan smartphone. Sementara itu ada 1,75 miliar orang di dunia yang sudah memiliki smartphone, tetapi bagian yang paling besar, sebanyak lebih dari 5 miliar orang, tidak punya smartphone,"  tulis raksasa internet itu seperti yang KompasTekno kutip, Rabu (4/2/2015) dari blog resmi Google.

"Android One bertujuan menjadi solusi bagi masalah itu," imbuhnya.

Google membayangkan Android One sebagai proyek yang akan membuat miliaran orang di seluruh dunia bisa mendapatkan smartphone murah, berkualitas, lalu terhubung ke internet.

Jadi Android One bukan sekadar proyek pengadaan ponsel murah. Google ingin seluruh penduduk dunia terhubung ke dunia maya.

Dengan berpegang pada ide itu, raksasa internet Amerika Serikat tersebut mengumumkan inisiatif Android One dalam ajang Google I/O, Juni 2014 lalu.

Dalam pengumuman tersebut, Google mengatakan akan menghadirkan smartphone Android One untuk orang-orang yang tinggal di negara berkembang. Target pertamanya adalah India, lalu meluas ke negara-negara lain.

Google menggarap Android One dengan menggandeng sejumlah vendor lokal di masing-masing negara terpilih. Raksasa internet itu menyediakan rancangan hardware yang dibutuhkan. Kemudian vendor yang bekerja sama tinggal membuatnya sesuai dengan konsep dasar yang sudah diberikan.

Piranti keras tersebut jadi perhatian penting bagi Google. Masalahnya adalah piranti keras tersebut merupakan salah satu bagian yang mempengaruhi harga smartphone. Menurut Google, ada tiga hal yang menghambat kepemilikan smartphone berkualitas di negara berkembang seperti India, Indonesia, dan Filipina.

Postingan Google bertanggal 15 September 2014 menyebutkan alasannya adalah, "Pertama, soal piranti keras itu sendiri, karena bahkan smartphone untuk pengguna pemula masih sulit didapatkan (ingat bahwa di beberapa negara tersebut pendapatan bulanan penduduknya hanya sekitar 250 dollar AS)."

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X