TechTravel #4: Indonesia Baru Mulai 4G, Tiongkok Sudah “Ngacir” ke 5G

Kompas.com - 14/02/2015, 14:21 WIB
JARINGAN 5G LTE -- BTS untuk jaringan supercepat 5G yang penggunaannya baru akan teralisasi secara massal tahun 2020 hanya disederhanakan sebagaimana yang terlihat di latar belakang insinyur Huawei ini, yakni hanya berupa (KOMPAS/PEPIH NUGRAHA)JARINGAN 5G LTE -- BTS untuk jaringan supercepat 5G yang penggunaannya baru akan teralisasi secara massal tahun 2020 hanya disederhanakan sebagaimana yang terlihat di latar belakang insinyur Huawei ini, yakni hanya berupa "speaker" berkuncup lima yang bisa diletakkan di atas gedung atau menempel di bagian bagunan. BTS tidak lagi berbentuk tower yang menjulang ke langit dan banyak makan tempat. (KOMPAS/PEPIH NUGRAHA)
|
EditorWicak Hidayat

Oleh: Pepih Nugraha

Kunci untuk menciptakan semua perangkat digital bekerja dengan baik salah satunya adalah tersedianya jaringan komunikasi supercepat. Kunci bergeraknya semua perangkat digital adalah jaringan lancar tidak kenal “byar-pet” alias “on-off”. Ini sudah disadari sejak awal oleh Tiongkok, khususnya Huawei yang menanamkan dana investasi yang tidak sedikit hanya untuk penelitian dan pengembangan jaringan komunikasi supercepat ini. Jawaban atas kunci pembuka tidak lain: jaringan 5G. Itulah yang sedang dikerjakan Tiongkok!

Tentu Tiongkok tidak sendirian dalam lomba adu cepat jaringan internet yang disebut-sebut 1.000 kali lebih cepat dari 4G ini. Tetangga dekatnya, Korea Selatan dan Jepang, juga tak mau kalah beradu cepat dalam apa yang digambarkan media sebagai “lomba menguasai teknologi informasi masa depan” ini.  Bahkan saat berlangsung acara Startup Nations Summit di Seoul, November 2014 lalu, Huawei tidak ragu menggandeng tiga perusahaan telekomunikasi Negeri Ginseng tersebut, yakni SK Telecom, KT dan LG Plus. Mengapa sedemikian percaya diri? Karena pada saat yang bersamaan Huawei tengah mengembangkan 5G dengan dana sekitar 600 juta Dollar AS atau sekitar Rp 7 triliun.

Saat berada di Shenzhen, Tiongkok, mendengarkan penjelasan Vice President International Media Affairs Huawei Roland Sladek bahwa 300 teknisi dan insinyur Huawei terlibat dalam pembangunan jaringan 5G ini, mau tidak mau ingatan saya hinggap di Tanai Air, Indonesia tercinta ini. Jika pada masa lalu kemajuan suatu bangsa diukur dari seberapa hebat negara itu menguasai industri, sekarang kemajuan suatu bangsa diukur dari seberapa canggih negara itu maju di bidang teknologi informasi. Saat yang bersamaan, Indonesia baru mulai memanfaatkan jaringan 4G.

Tentu suatu kemajuan, meski pada awal jaringan ini masuk, sempat ada kendala soal perizinan, soal regulasi. Dengan beralih ke 4G, berangsur-angsur Indonesia akan segera meninggalkan 3G dan 2G yang sudah dianggap “kuno” tetapi harus diakui telah sekian lama menghubungkan Indonesia.

Evolusi jaringan bergerak untuk kebutuhan komunikasi dan transfer data memang selalu menarik perhatian, khususnya bagi para operator telepon selular, produsen gawai (gadget) sampai end users atau pengguna. Ini terkait dengan kecepatan dan kemudahan manusia tersambungkan secara digital dan nirkabel satu sama lain yang berbilang jarak, ruang dan waktu.

Di sisi operator dan pembuat gawai, ketersambungan antarmanusia dengan segenap perlengkapan komunikasinya berarti megabisnis. Bagi pengguna, akan semakin banyak ragam pilihan cara dan gaya berkomunikasi dengan kecepatan transmisi yang terus “didewakan” sebagai keunggulan. Itu sebabnya ketika 4G masih baru akan melangkah di Indonesia, ketersediaan dan pengaturannya oleh pemerintah sangat ditunggu oleh pengguna internet yang haus akan kecepatan. Lebih cepat dan lebih terjangkau tentunya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tanpa harus menunggu aba-aba pemerintah sentral, Huawei selaku perusahaan global berbasis di Shenzhen, berinisiatif menanamkan investasi untuk meneliti dan mengembangkan generasi baru kecepatan transmisi internet, yaitu 5G tadi. Ini evolusi terbaru dari jaringan transmisi dengan kecepatan yang bisa mengubah wajah teknologi informasi depan. Seribu kali lebih cepat dari 4G yang tercepat saat ini, itu bukan main-main.

Sekadar kilas balik, agar bisa saling berkomunikasi menggunakan telepon selular, manusia memerlukan teknologi GSM atau Global Systems for Mobile Communications. Ini sebuah standar yang dikembangkan ETSI (European Telecommunications Standards Institute) untuk menggambarkan sebuah protokol untuk generasi kedua jaringan selular digital atau 2G yang penggunaannya semata-mata hanya untuk telekomunikasi melalui telepon selular.

Meski demikian, pada masanya teknologi ini berkembang, penetrasi pasarnya mencapai 90 persen. Artinya, tidak ada ponsel di manapun di dunia ini yang tidak menggunakan teknologi jaringan ini. Bahwa di beberapa tempat di Tanah Air ini 2G masih digunakan, lebih karena kebutuhan yang tidak “neko-neko”, yakni sebatas penggunaan telefonik atau berkirim SMS.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.