Pesawatnya Disebut Bisa Dibelokkan "Hacker", Ini Kata Boeing

Kompas.com - 18/05/2015, 15:04 WIB
Sistem IFE (in-flight entertainment) dalam kabin pesawat Boeing 737-800. Airliners.netSistem IFE (in-flight entertainment) dalam kabin pesawat Boeing 737-800.
|
EditorReza Wahyudi
KOMPAS.com — Biro penyelidik federal AS, FBI, baru-baru ini memublikasikan dokumen penahanan seorang peretas bernama Chris Roberts yang mengklaim bisa membobol sistem komputer pesawat.

Roberts mengatakan, ia bisa mengakses sistem komputer yang mengatur mesin pesawat dengan meretasnya melalui sistem hiburan di pesawat atau biasa disebut dengan in-flight entertainment (IFE).

Celah keamanan dalam IFE itu menurut Roberts terdapat dalam sistem pesawat Boeing 737-800, 737-900, 757-200, dan Airbus A320, seri pesawat populer yang banyak dioperasikan oleh maskapai di seluruh dunia.

Menanggapi hal tersebut, pabrikan pesawat Boeing dan pakar keamanan sistem satelit pesawat mengutarakan pendapatnya.

"Sistem (IFE) ini memang menerima data posisi dan memiliki sambungan komunikasi. Namun, desainnya benar-benar terpisah dengan sistem lain dalam pesawat yang menjalankan fungsi kritis," demikian tulis pernyataan resmi Boeing seperti dikutip KompasTekno dari Runway Girl, Minggu (17/5/2015).

Perangkat IFE yang digunakan dalam pesawat selalu mendapatkan sertifikasi dari badan Design Assurance Level (DAL) dengan sertifikasi E. Level E merujuk pada tingkat desain yang rendah. Dalam hal ini, kerusakan dalam sistem ini tidak akan berpengaruh pada keamanan operasi pesawat.

Sebagai perbandingan, radio komunikasi yang digunakan di pesawat mendapat sertifikasi Level D, sementara sistem avionik berada pada Level C.

Selain itu, pakar sistem komunikasi dalam pesawat, Peter Lemme, juga menekankan bahwa perubahan penting dalam setting pesawat, seperti mesin, membutuhkan otorisasi dari pilot.

"Klaim yang menyebut bahwa mode Thrust Management System bisa diubah tanpa persetujuan input pilot melalui panel MCP (mode control panel di kokpit), atau melalui komputer flight management system, itu sangat diragukan," ujar Peter.

Sebelumnya, dalam berkas yang dipublikasikan oleh FBI pada Mei ini, Roberts mengatakan bahwa ia berhasil mengubah mode dalam komputer Thrust Management System dan memerintahkan satu mesin dalam mode climb sehingga membuat pesawat berbelok.

"Thrust Management itu selalu membutuhkan pilot sebagai pengawas aktif jika sewaktu-waktu terjadi kegagalan, dan pilot memiliki otoritas penuh untuk mengambil alih jika terjadi perubahan atau kegagalan," imbuh Peter.

Boeing mengklaim bahwa pihaknya selalu berusaha mendesain pesawat yang aman, sesuai atau bahkan melebihi persyaratan yang ditetapkan, baik secara fisik maupun dalam hal keamanan cyber.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X