16 Merek Ponsel Sudah Penuhi TKDN 20 Persen

Kompas.com - 03/07/2015, 16:37 WIB
Edisi keempat Gorilla Glass ini juga berhasil melewati pengujian “drop test” dengan imbas kejatuhan 80 persen lebih keras dari versi sebelumnya. Oik Yusuf/ Kompas.comEdisi keempat Gorilla Glass ini juga berhasil melewati pengujian “drop test” dengan imbas kejatuhan 80 persen lebih keras dari versi sebelumnya.
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com – Waktu berlakunya aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri ( TKDN) 30 persen masih berselang dua tahun ke depan. Namun sejumlah vendor ponsel sudah menyiapkan diri untuk memenuhinya.

Menteri Perindustrian Saleh Husin, mengungkap saat ini ada 16 merek smartphone yang sudah berhasil mencapai kandungan lokal 20 persen.  Merek yang dimaksud adalah Polytron, Evercoss, Advan, Mito, Axioo, SPC, Gosco, Asiafone, Samsung, Oppo, Haier, Huawei, Smartfren, Ivo, Bolt, dan Lenovo.

“Enam belas merek ini sudah merakit ponsel di dalam negeri. Mereka pun sudah mencapai TKDN 20 persen. Tinggal kita lihat ke depannya,” ujar Saleh, usai Rapat Pembahasan TKDN bersama Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara dan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, di Gedung Kemenkominfo, Jumat (3/7/2015).

Sementara ini, aturan kandunganl lokal minimal 30 persen hanya berlaku untuk smartphone 4G LTE berbasis frequency division duplex (FDD). Sedangkan ponsel yang menggunakan 4G LTE berbasis time division duplex (TDD) baru akan terkena aturan itu pada 2019.

Saleh berharap aturan tersebut bisa menurunkan angka impor ponsel yang mencapai puluhan juta unit per tahun. Pada tahun 2012 lalu saja, jumlah ponsel impor yang beredar di Indonesia mencapai 70 juta unit, sedangkan pada 2014 turun mencapai 54 juta.

Rudiantara menambahkan, selain mengurangi impor, aturan kandungan lokal akan  membantu meringankan defisit perdagangan.

“Angka konsumsi smartphone mencapai 3,5 miliar dollar AS, itu baru jalur resmi saja. Kalau smartphone yang masuk illegal dihitung, mungkin bisa 5 miliar dollar AS bahkan lebih. Nilai itu menyumbang pada defisit nilai transaksi perdagangan. Dan bila semakin besar akan berdampak pada volatilitas exchange rate,” terangnya.

“Karena itu kami coba kurangi sedikit dari sisi ekonomi makro. Bayangkan kalau 30 persen itu berjalan dan kita bisa menekannya,” imbuhnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X