Kompas.com - 21/10/2015, 10:17 WIB
|
EditorPalupi Annisa Auliani

KOMPAS.com – Tahukah Anda, aktivitas kita sehari-hari di dunia maya—termasuk berkirim e-mail dan bertukar pesan—butuh dua miliar pohon untuk mengatasi polusi emisi karbon yang disebabkannya? Polusi itu datang dari konsumsi energi yang dibutuhkan data center, peranti untuk menyimpan lalu lintas informasi di dunia maya.

Konsumsi energi pada data center bisa mencapai 20 persen total energi untuk operasional perusahaan. Server yang harus siaga 24 jam untuk melayani aktivitas virtual dunia yang semakin mendigital, jadi pemicu. 

Berkirim e-mail maupun pesan singkat dalam jaringan (daring), kegiatan perbankan di ATM, maupun jual-beli lewat layanan e-commerce, adalah informasi yang “dirumahkan” dalam data center. Di pusat data ini, informasi dikumpulkan dan disimpan agar bisa diakses dari mana pun dan kapan saja.

Data dari Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (US EPA) menyebutkan, energi yang dipakai data center di seluruh dunia per tahun ternyata melebihi konsumsi listrik yang dipakai 10 juta rumah tangga dalam setahun. Itu setara dengan kapasitas 20 pembangkit listrik bertenaga batubara dalam satu tahun. Emisi karbon yang dihasilkan konsumsi energi ini sekitar 70 juta ton per tahun, yang butuh dua miliar pohon untuk mengatasinya.

Efisiensi dan inovasi

Karena itu, inovasi untuk mendapatkan data center yang ramah lingkungan terus ditunggu. Namun, bukan berarti tak ada yang bisa dilakukan selama inovasi itu belum mewujud nyata. Sejumlah hal tetap bisa dilakukan untuk menekan penggunaan energi di pusat data ini.

Dalam data center, tingkat penggunaan daya bisa dilihat melalui Power Usage Effectiveness (PUE). Efektivitas penggunaan daya listrik ini mengukur total konsumsi daya data center dibagi dengan nilai catu daya terpakai.

www.shutterstock.com Penggunaan listrik semakin efisien ketika angka PUE makin mendekati 1.0. Artinya, setiap 1 kilo Watt hour (kWh) listrik yang mengalir data center memang menjadi 1 kWh listrik yang dipakai peranti di dalamnya.

Penggunaan listrik semakin efisien ketika angka PUE makin mendekati 1.0. Artinya, setiap 1 kilo Watt hour (kWh) listrik yang mengalir data center memang menjadi 1 kWh listrik yang dipakai peranti di dalamnya.

Untuk meningkatkan efisiensi, sistem pengatur suhu di data center juga perlu dihitung. Bukan rahasia lagi kalau komponen data center sangat rentan rusak termasuk oleh suhu dan kelembaban yang tak tepat. Menyediakan pendingin yang bisa menghasilkan suhu dan kondisi optimal sesuai kebutuhan, akan menjadi solusi untuk efisiensi dan biaya.

Seiring kemajuan teknologi, infrastruktur data center dan sistem server sudah pula dirancang dengan memperhitungkan efisiensi energi. Lenovo ThinkServer RD350 adalah salah satu contoh produk yang menyematkan jaminan hemat energi ini hingga 50 persen dari produk konvensional. Dengan teknologi seperti ini, data di jagat maya tetap aman sekaligus tak perlu dua miliar pohon "bekerja keras" mengatasi imbas polusi penggunaan energinya.

Baca juga: Percuma Bangun StartUp Besar kalau "Server"-nya "Lemot"!

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.