Naik Pesawat Ini Jika Ingin Efek "Jet Lag" Berkurang

Kompas.com - 14/09/2016, 19:15 WIB
|
EditorDeliusno

Pabrikan pesawat selama ini tidak ingin cabin altitude dibuat serendah mungkin (tekanan udaranya makin tinggi), karena tekanan udara yang tinggi di dalam kabin bisa meningkatkan stress di logam bodi pesawat, sehingga memperpendek umur logam tersebut.

"Dreamliner memiliki bodi berbahan komposit yang memungkinkan kami mengatur tekanan udara sesuai keinginan kami, karena materinya lebih tahan tekanan," ujar Blake Emery, Director of Differentiation Strategy Boeing, seperti dikutip KompasTekno dari Business Insider, Rabu (14/9/2016).

Studi perihal jet lag

Studi yang dilakukan oleh Boeing bersama dengan Oklahoma State University juga berupaya membuktikan, semakin tinggi tekanan udara (cabin altitude rendah), maka tubuh menjadi lebih segar.

Dalam studi tersebut ditemukan, penumpang yang terbang di kabin bertekanan setara 8.000 kaki memiliki kadar oksigen dalam darah yang lebih rendah 4 persen dibanding penumpang yang berada dalam kabin bertekanan 6.000 kaki.

Dengan tekanan udara yang setara 6.000 kaki di atas permukaan laut, kadar oksigen menjadi lebih tinggi, dan penumpang di dalamnya diharapkan bisa beraktivitas lebih nyaman.

Walau tidak memicu langsung mountain sickness, namun menurut para ahli, paparan yang terlalu lama seperti tiga hingga sembilan jam bisa menimbulkan ketidaknyamanan dalam tubuh.

"Studi di ketinggian 6.000 kaki menunjukkan efek reaksi tubuh yang sama di ketinggian setara air laut, maka kami membuat kabin Dreamliner bertekanan 6.000 kaki," ujar Emery.

Pun demikian dengan Airbus. Bodi pesawat A350 XWB yang terbuat dari bahan komposit itu juga tahan dengan tekanan udara yang lebih tinggi saat terbang. Kabin A350 XWB juga diatur agar memiliki tekanan udara setara di ketinggian 6.000 kaki.

Bahkan, pabrikan asal Perancis itu juga menambakan fitur sistem kelembaban udara di dalam kabinnya, untuk menjaga agar penumpang tidak mengalami keriput di kulit, serta tenggorokan atau mata kering saat harus terbang jarak jauh.

Selain itu, Airbus dan Boeing juga memiliki sistem tata cahaya kabin yang bisa memancarkan ribuan kombinasi warna, dengan penggunaan lampu LED.

Lampu tersebut bisa disimulasikan untuk meniru pencahayaan di luar, seperti saat matahari tenggelam (sunset) atau matahari terbit (sunrise), sehingga diharapkan bisa membantu organ-organ tubuh menyesuaikan diri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.