"Startup" Ini Beri Rp 133 Juta ke Karyawan yang Mau Pindah dari Silicon Valley

Kompas.com - 23/03/2017, 18:04 WIB
Google memang akan memberikan layanan tersendiri untuk pesawat-pesawat pribadi milik para pejabat Google, serta klien-kliennya di Silicon Valley seperti Hewlett Packard. Area bandara eksklusif ini dirancang akan oleh arsitek Gensler dengan fasilitas premium LEED menampilkan terminal eksekutif, hanggar, sumber daya servis pesawat dan ruang jalan untuk menampung pesawat jet besar kelas bisnis seperti itu Boeing 737 dan Boeing B767. www.designboom.comGoogle memang akan memberikan layanan tersendiri untuk pesawat-pesawat pribadi milik para pejabat Google, serta klien-kliennya di Silicon Valley seperti Hewlett Packard. Area bandara eksklusif ini dirancang akan oleh arsitek Gensler dengan fasilitas premium LEED menampilkan terminal eksekutif, hanggar, sumber daya servis pesawat dan ruang jalan untuk menampung pesawat jet besar kelas bisnis seperti itu Boeing 737 dan Boeing B767.
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com - Biaya hidup di San Francisco, terutama di Bay Area yang salah satunya mencakup kawasan industri teknologi Silicon Valley, terhitung sangat mahal. Pegawai level menengah di Google, Uber, Airbnb, dan Twitter, bahkan bisa menghabiskan 40 persen hingga 50 persen gajinya hanya untuk membayar sewa apartemen di Bay Area.

Lantas, bagaimana dengan startup yang tak setenar Google dkk? Pegawai-pegawainya tentu lebih kesulitan mengatur keuangan ketika harus tinggal di Bay Area.

Hal ini menjadi perhatian Wade Foster yang tak lain adalah CEO dari startup peranti lunak bertajuk Zapier. Ia mengajak para pegawainya yang tinggal di Bay Area untuk pindah ke kawasan pemukiman lain.

Sebagai imbalannya, Foster memberikan uang 10.000 dollar AS atau setara Rp 133 juta-an untuk membantu kepindahan para pegawai, sebagaimana dilaporkan BusinessInsider dan dihimpun KompasTekno, Kamis (23/3/2017).

Ada syaratnya

Ada beberapa syarat yang ia berlakukan pada program relokasi ini. Pertama, tentu program ini untuk pegawai yang menyewa tempat tinggal di Bay Area. Kedua, harus ada latar belakang cerita kenapa mereka dulu memilih tinggal di sana dan kenapa sekarang ingin pindah.

Baca: Cerita 6 Startup Indonesia Ditempa di Markas Google

"Beberapa dari kita sangat suka Bay Area, bahkan ada yang mampu membeli rumah di sana. Tapi, lebih banyak yang berjuang untuk sekadar menyewa di sana ketika bekerja di Silicon Valley pada kisaran umur 20-an hingga 30-an," kata Foster.

Foster tak ingin pegawainya terbelit pada rutinitas mendapat gaji, lalu habis begitu saja hanya untuk menyewa tempat tinggal di Bay Area dan keperluan sehari-hari. Ia ingin pegawainya lebih cerdas dalam mengelola keuangan.

Zapier sendiri sejak dua tahun lalu telah menghapus konsep "kerja di kantor". Seluruh pegawainya kerja remote sebab kantor fisik Zapier benar-benar tak ada.

Ini adalah salah satu cara Foster untuk mereduksi pengeluaran pegawai, serta membuat waktu kerja lebih fleksibel dan tanpa tekanan iklim kantor yang melelahkan.

Diketahui, properti di Bay Area memang terhitung mahal. Sewa apartemen standar di sana rata-rata 4.200 dollar AS atau sekira Rp 56 juta per bulan. Ada sekitar 30 persen dari populasi di San Francisco yang masuk kategori millenial. Diperkirakan mereka akan kesulitan punya rumah sendiri ketika dewasa.

Baca: Punya Gaji Tinggi, Googlers Ini Tetap Hengkang dari Silicon Valley

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.