Pemerintah Imbau Korban "Ransomware" Tidak Bayar Tebusan Rp 4 Juta

Kompas.com - 14/05/2017, 14:20 WIB
Perwakilan ID-SIRTII Adi Jaelani dalam konferensi pers Ransomware WannaDry Jakarta, Minggu (14/5/2017). Fatimah Kartini/Kompas.comPerwakilan ID-SIRTII Adi Jaelani dalam konferensi pers Ransomware WannaDry Jakarta, Minggu (14/5/2017).
|
EditorReza Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengimbau masyarakat untuk tak panik menanggapi penyebaran ransomware berjenis WannaCry. Program jahat itu berdampak fatal dan menyebar sangat cepat, kini sudah di sekitar 100 negara termasuk Indonesia.

Dua rumah sakit di Jakarta dilaporkan telah terjangkit ransomware WannaCry pada Sabtu (13/5/2017) kemarin. Virus tersebut menghadang pengguna untuk mengakses data di dalam komputer yang terjangkit. (Baca: Rumah Sakit di Jakarta Disandera Ransomware, Minta Tebusan Rp 4 Juta)

Jika mau mengakses kembali, pengguna diminta bayar tebusan sekitar Rp 4 juta dalam bentuk duit virtual Bitcoin.

hand-out Tampilan sistem antrean pasien sebuah rumah sakit di Jakarta yang terjangkit malware Ransomware, Sabtu (13/5/2017).
Bagi sebagian orang, nominal Rp 4 juta mungkin tak seberapa dibanding data penting yang ditawan. Namun, pemerintah, lewat Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII), mengimbau agar masyarakat tak serta-merta memenuhi permintaan pelaku penyebar ransomware WannaCry.

"Pokoknya jangan dibayar. Kalau dari kasus-kasus sebelumnya, pelaku akan main-main dan menarik ulur. Mereka akan minta lagi duit lebih banyak dan ujung-ujungnya file tetap ditahan," kata perwakilan ID-SIRTII Adi Jaelani, Minggu (14/5/2017), usai konferensi pers di Bakoel Koffie, Jakarta.

Adi mengatakan ada juga penjahat maya yang menyebar ransomware dan benar-benar memberikan kembali akses data ke korbannya pasca-tebusan dibayar. Namun, skenario seperti itu sangat jarang terjadi.

Baca: Begini Cara Ransomware Menginfeksi Komputer

Untuk menyelamatkan data, Adi menganjurkan pengguna melakukan backup data dalam keadaan komputer tak terhubung internet. Sebaiknya, backup itu melalui sistem operasi lain, misalnya Ubuntu atau Linux.

"Yang penting sekarang data penting selamat dulu," ujarnya.

Hingga kini belum ada yang menemukan dekripsi (kunci pembuka) untuk membuka enkripsi dari WannaCry. Program itu umumnya menyerang komputer bersistem operasi Windows 8 ke bawah.

Microsoft sejatinya sudah mengeluarkan patch untuk menghadang WannaCry sejak dua bulan lalu. Dalam artian, untuk pengguna sistem operasi Windows 10 dan Windows versi lain yang rajin update, semestinya aman dari serangan WannaCry.

"Ini mengingatkan kembali supaya kita higienis. Sering-sering update sistem operasi komputer, karena serangan maya semakin banyak dan macam-macam bentuknya. Backup data juga penting sekali supaya nggak kalang kabut kalau ada hal-hal seperti ini," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika, Semuel A. Pangerapan, pada kesempatan yang sama.

Baca: Sambut Hari Senin, Kominfo Berikan Panduan Lengkap Cegah Ransomware WannaCry



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X