CEO Apple: Jangan Percaya Perusahaan yang Minta Data Pengguna - Kompas.com

CEO Apple: Jangan Percaya Perusahaan yang Minta Data Pengguna

Kompas.com - 05/10/2018, 20:06 WIB
CEO Apple, Tim CookAP Photo CEO Apple, Tim Cook

KOMPAS.com - CEO Apple, Tim Cook memang dikenal sangat getol melindungi privasi data pengguna, di mana beberapa perusahaan teknologi kerap menyalahgunakannya. Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa apa yang diiming-imingkan perusahaan teknologi soal data privasi, hanya omong kosong belaka.

"Narasi yang digunakan perusahaan untuk meyakinkan (pengguna) adalah, 'saya harus mengambil semua data Anda untuk membuat layanan lebih baik lagi'. Tapi, jangan percaya mereka," papar Cook.

Cook memang tidak membeberkan perusahaan mana yang dimaksud. Namun seperti diketahui, Facebook dan Google menjadi dua perusahaan teknologi yang memanfaatkan data pengguna untuk tujuan iklan, di mana hal itu menjadi sumber pemasukan terbesar mereka.

"Siapa pun yang mengatakan itu adalah omong kosong," lanjut Cook.

Beberapa perusahaan teknologi raksasa, terutama yang menyediakan layanan secara cuma-cuma, diketahui bekerja sama dengan pihak ketiga untuk membagikan data pengguna.

Cook seringkali menyoroti soal privasi data pengguna yang dijadikan alat jualan bagi para pengiklan. Saat skandal Cambridge Analytica yang melanda Facebook mencuat, Cook ikut mengomentari sistem monetisasi Facebook.

Baca juga: Bos Apple Sindir Facebook soal Kebocoran Data

Ia mengritik layanan gratis sejatinya tidak benar-benar gratis, melainkan menukar histori pencarian dan data lain pengguna. Idealisme Cook terhadap privasi data pengguna, juga berlaku di perusahaan yang ia pimpin.

Apple dikenal sangat ketat terkait data pengguna. Hardware yang dipasang membuat produk Apple susah disusupi untuk mengais informasi pengguna oleh pihak luar. Bahkan Apple sendiri kesusahan membobol enkripsi data platformnya.

Berbeda dengan Apple, Facebook dan Google sedang menjadi sorotan terkait data pengguna yang dimanfaatkan untuk mendulang keuntungan. Tahun 2017 lalu, Facebook sendiri sesumbar jika 98 persen pemasukan berasal dari iklan.

Sementara Google, menurut laporan dari Associated Press (AP) dan Princeton University yang dirilis Agustus 2018 lalu, mengatakan jika perusahaan search engine ini adalah perusahaan periklanan digital terbesar.

Google memanfaatkan informasi detail penggunanya secara online dan offline untuk menargetkan iklan.

Dilansir KompasTekno dari CNBC, Jumat (5/10/2018), prinsip Apple tentang privasi yang dianggap terlalu konservatif ini, akan menghambat pengembangan produk Apple seperti Siri, apalagi menghadapi kompetisi dengan pesaingnya, Alexa besutan Amazon.

Namun bukan berarti Apple sama sekali tidak menggunakan data pengguna. Cook mengatakan jika perusahaanya menekan seminimal mungkin mengumpulkan data pengguna.

Cook menjelaskan jika privasi menjadi masalah terpenting abad ini. Ia mengaku bukanlah pendukung regulasi.

Namun ia tak menolak untuk bekerja sama dengan para pembuat undang-undang dan mengedukasi pentingnya data privasi serta memastikan para perusahaan teknologi untuk membuat produk yang sehat bagi masyarakat.

Kompromi dengan China

Kendati teguh dengan perlindungan data pengguna, Apple pernah mendapat sorotan ketika memindahkan data iCloud ke server lokal yang disimpan di China.

Server tersebut dikhususkan bagi pengguna iPhone di China. Beberapa pihak meragukan langkah ini dan khawatir jika saja pemindahan tersebut mempermudah pemerintah China untuk mengakses pesan, e-mail, dan data lain yang tersimpan di iCloud.

Baca juga: Android Sedot Data Pribadi 10 Kali Lebih Banyak dari iPhone

Namun Cook kembali mengatakan bahwa kebijakan enkripsi Apple di semua negara berlaku sama dan untuk masalah tersebut, Apple akan menerapkan kontrol data yang optimal. 

"Kami memiliki beberapa server yang berlokasi di negara-negara berbeda di dunia. Tidak mudah bagi mereka untuk mendapat data dari satu negara dan negara berikutnya," jelas Cook.

.

.


Close Ads X