Di Hadapan Bloger Ambon, Menkominfo Ajak Perangi "Hoax" - Kompas.com

Di Hadapan Bloger Ambon, Menkominfo Ajak Perangi "Hoax"

Fatimah Kartini Bohang
Kompas.com - 09/02/2017, 17:23 WIB
KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Rudiantara saat pembukaan Festival Fotografi Kompas bertema Unpublished di Bentara Budaya Jakarta, Senin (6/2/2017). Festival fotografi ini menampilkan pameran 100 foto dari fotografer Kompas, diskusi foto dan workshop yang berlangsung hingga 12 Februari 2017 mendatang.

KOMPAS.com - Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, mengajak komunitas bloger Kota Ambon untuk turut memerangi berita palsu alias hoax. Menurut dia, pemberantasan hoax bukan cuma tanggung jawab pemerintah, namun juga butuh andil dari para bloger dan netizen secara keseluruhan.

Diketahui, konten yang bertebaran di internet merupakan kontribusi gabungan dari portal media online, bloger, dan netizen secara umum. Kemunculan hoax sejatinya menyebar dari para pembuat konten itu sendiri.

Selain itu, Rudiantara juga menjelaskan bahwa masih ada kesenjangan informasi yang dialami kalangan bloger di Ambon. Ini semua tak lepas dari konektivitas di Ambon yang belum semumpuni wilayah Jawa, terutama Jakarta.

"Agak sulit menangkal isu hoax untuk proses cek dan ricek mengingat konektivitas yang tidak bagus tersebut," kata Rudiantara, dalam pertemuan dengan bloger di sela rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Ambon, Rabu (8/2/2017), sebagaimana dikutip KompasTekno dari situs Kominfo.

Meski demikian, menteri yang kerap disapa RA itu mengatakan pemerintah telah berupaya memperbaiki konektivitas internet di Ambon dan wilayah-wilayah lain dengan membangun tol informasi yang Indonesia sentris melalui program Palapa Ring.

Dalam diskusi bersama Komunitas Bloger Ambon, turut hadir pula perwakilan dari Komunitas Blogger Jakarta untuk berbagi ilmu. Habib Almascatie yang merupakan perwakilan Komunitas Blogger Ambon mengatakan, netizen zaman sekarang harus cerdas memilah informasi dari internet.

"Verifikasi dan cross check perlu dilakukan untuk meluruskan berita palsu melalui media sosial, sehingga tidak terjadi polemik yang dapat memicu keresahan berkenaan dengan SARA," ia menjelaskan.  

Baca: Ikan Tongkol dan Hoax Disleksia: Meramu Kebohongan demi Simpati

PenulisFatimah Kartini Bohang
EditorReska K. Nistanto
Sumberkominfo,
Komentar
Close Ads X