Dapati "Penyebar Kebencian" di Medsos, Apa yang Harus Dilakukan?

Kompas.com - 28/08/2015, 14:38 WIB
Forum Demokrasi Digital saat berdiskusi di Jakarta, Rabu (26/8/2015) Deliusno/KOMPAS.comForum Demokrasi Digital saat berdiskusi di Jakarta, Rabu (26/8/2015)
Penulis Deliusno
|
EditorReza Wahyudi
JAKARTA, KOMPAS.com — Akun penyebar kebencian (hate-speech), seperti milik Arif Kusnandar, banyak bermunculan belakangan ini. Agar kejadian serupa bisa dikurangi, Forum Demokrasi Digital (FDD) punya beberapa tips bagi para netizen Indonesia apabila menemukan akun seperti itu.

Menurut Damar Juniarto dari Safenet, yang juga tergabung ke FDD, langkah pertama yang harus diambil adalah dengan memberikan peringatan atau nasihat kepada pemilik akun.

Usahakan, dengan bahasa yang sopan, beritahukan kepada si pengguna akun itu bahwa hal yang dilakukan merupakan bentuk penyebaran kebencian, bukan sebagai bentuk kebebasan berpendapat.

"Jika dibalas dengan caci makian, langsung ingatkan bahwa ia bisa melanggar Pasal 40 tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi dan etnis. Semoga, ia bisa mengerti," ujar Damar dalam diskusi FDD di Jakarta, Rabu (26/8/2015).

Langkah selanjutnya adalah melakukan identifikasi. Tujuannya untuk mengetahui apakah pemilik akun tersebut benar sebagai penghasut atau sebenarnya hanya netizen biasa.

Sesudah diidentifikasi, segera lakukan lokalisasi masalah. Tujuannya agar masalah tersebut tidak berkembang ke arah yang semakin tidak jelas. Selain itu, identifikasi juga berperan agar hasutan tersebut tidak menyebar semakin luas.

Jika pemilik akun tersebut masih kukuh dengan statusnya, cara selanjutnya adalah mengambil screenshot dari status tersebut, kemudian sebarkan saja di media sosial, dan biarkan masyarakat yang menilai.

"Setelah itu, si pembuat status bisa saja mendapatkan hukuman sosial dari netizen lain. Semoga saja dia kapok menyebarkan status seperti itu," tuturnya.

Tahap terakhir, jika orang tersebut masih terus menyebarkan kebencian, laporkan saja kepada pihak berwenang, seperti kepolisian, atau ke situs media sosial. Dalam kasus Arif Kusnandar, pihak pemerintah meminta Facebook untuk memblokir akunnya dan melaporkannya ke kepolisian.

"Harapannya, orang sudah harus berani melaporkan langsung ke Kementerian Komunikasi dan Informatika atau ke kepolisian. Akan tetapi, jika belum berani, bisa mengontak FDD melalui demokrasidigital.net," pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X