Kompas.com - 20/01/2016, 11:58 WIB
Penulis Oik Yusuf
|
EditorReza Wahyudi

Dengan memangkas iuran tahunan, WhatsApp kehilangan satu-satunya sumber pendapatan. Lalu dari mana perusahaan ini akan mendapatkan uang?

Lagi-lagi, Koum menampik kekhawatiran bahwa pihaknya bakal melakukan sesuatu yang berpotensi mengganggu kenyamanan pengguna.

“Orang-orang mungkin bertanya bagaimana kami menjalankan WhatsApp tanpa menarik biaya langganan, atau khawatir bahwa pengumuman ini bakal menandai kehadiran iklan pihak ketiga,” tulis Koum dalam sebuah posting blog.

“Jawabannya adalah tidak akan ada iklan.”

tech2ipo.com Pendiri dan CEO WhatsApp, Jan Koum
Sebagai ganti pemasukan yang hilang, WhatsApp menyatakan bakal menjajaki kemungkinanan menawarkan sejumlah layanan berbayar untuk pengguna korporat.

Layanan ini nantinya bisa dipakai oleh entitas bisnis untuk berkomunikasi dengan pelanggan masing-masing tanpa perlu membayar biaya tambahan lain.

Koum mencontohkan komunikasi dalam proses verfifikasi transaksi antara konsumen dengan bank, lalu bisa juga pemberitahuan tertundanya penerbangan dari maskapai ke calon penumpang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Semua pesan tersebut sekarang disampaikan melalui jalur lain, yakni lewat telepon dan SMS. Kami ingin menguji aneka tools baru untuk membuat ini lebih mudah dilakukan lewat WhatsApp,” terang Koum. Masih belum jelas seperti apa nantinya layanan bisnis yang dimaksud.

Mengapa WhatsApp mengganti model bisnis yang tadinya menggarap konsumen jadi menyasar segmen korporat?

Perusahaan yang didirikan pada 2009 ini rupanya merasa bahwa penarikan biaya langganan seperti yang dijalankannya selama bertahun-tahun kurang bisa diandalkan untuk mengisi kas perusahaan.

Sebabnya, menurut Koum, adalah banyaknya pengguna WhatsApp yang tak punya kartu debit atau kredit untuk membayar biaya langganan.

Alhasil, basis pengguna WhatsApp yang kini sudah mencapai kisaran 990 juta,  berlipat dua semenjak akuisisi oleh Facebook- pun tak bisa dimanfaatkan dengan optimal. Hingga kemudian diputuskanlah untuk menghapus biaya tersebut sama sekali.

Saat berbicara di Konferensi Digital Life Design di Munich, Jerman, awal minggu ini, Koum menjelaskan bahwa WhatsApp mencoba menerapkan model bisnis “commercial-participation”, sebuah bentuk evolusi model “freemium” di mana hanya pengguna tertentu saja yang dikenai biaya layanan.

Dalam hal ini, para pengguna itu adalah kalangan korporat yang bersedia membayar lebih untuk fitur premium atau volume yang lebih besar.

Pihak Facebook sendiri selaku pemilik WhatsApp tak menerapkan “deadline” tertentu bagi layanan chatting tersebut untuk mulai mendulang pendapatan besar.

Dengan demikian, menurut Koum, WhatsApp bisa fokus mendorong pertumbuhan pengguna tanpa takut kehilangan pelanggan yang tak bisa membayar, sambil sekaligus mencoba-coba peruntungan di ranah baru.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.