Alasan Apple Melindungi iPhone Teroris dari Peretasan FBI

Kompas.com - 18/02/2016, 09:45 WIB
CEO Apple Tim Cook berbicara dalam acara yang diselenggarakan Apple di Flint Center for the Performing Arts, di Cupertino, California, Amerika Serikat, Selasa (9/9/2014). Pada acara itu Apple meluncurkan Apple Watch dan dua iPhone terbaru, iPhone 6 dan iPhone 6 plus. GETTY IMAGES / AFP PHOTO / JUSTIN SULLIVANCEO Apple Tim Cook berbicara dalam acara yang diselenggarakan Apple di Flint Center for the Performing Arts, di Cupertino, California, Amerika Serikat, Selasa (9/9/2014). Pada acara itu Apple meluncurkan Apple Watch dan dua iPhone terbaru, iPhone 6 dan iPhone 6 plus.
EditorOik Yusuf

KOMPAS.com - Biro Penyelidikan Federal AS ( FBI) pusing tujuh keliling ketika berusaha membuka data iPhone yang diduga merupakan milik teroris pelaku penembakan di San Bernardino, Syed Rizwan Farook.

Pasalnya, para penyelidik terganjal sistem pengamanan iPhone yang mampu menghapus data ponsel apabila percobaan menjebol perangkat itu gagal hingga 10 kali.

FBI pun menempuh upaya hukum untuk menekan Apple agar mau membuka kunci iPhone yang bersangkutan. Tetapi, permintaan yang disuarakan lewat pengadilan federal ini kemudian ditolak mentah-mentah.

Mengapa Apple tak mau membantu penyelidikan pihak berwajib? Tim Cook selaku CEO pabrikan gadget itu menerangkan alasannya dalam sebuah surat terbuka di situs Apple.

“Pemerintah AS meminta kami melakukan sesuatu yang di luar kemampuan dan terlalu berbahaya untuk dibuat. Mereka meminta kami membuat backdoor (untuk mengakses data) ke iPhone,” tulis Cook.

Dia melanjutkan, backdoor yang dimaksud berupa software sistem operasi iPhone versi khusus yang menghilangkan sejumlah fitur keamanan untuk kemudian dipasang di ponsel iPhone milik sang teroris.

Dengan begini, software tersebut--yang saat ini belum ada--bisa digunakan untuk mengakses data yang tersimpan di dalam iPhone.

“FBI mungkin menyebutnya dengan istilah berbeda. Harap jangan salah: versi iOS yang menyabot keamanan dengan cara begini sama saja dengan membikin backdoor,” katanya.

“Master key”

Backdoor yang diminta FBI memungkinkan passcode untuk dimasukkan secara elektronik sehingga iPhone lebih mudah dijebol dengan teknik “brute force”, yakni menebak angka kunci dengan memasukkan jutaan kombinasi per detik dengan bantuan komputer.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Apple
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X