Olok-olok Baju Batak Jokowi Bentuk Ketidaktahuan Budaya

Kompas.com - 25/08/2016, 16:18 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengenakan pakaian adat Batak Toba (Samosir) dalam kunjungan kerja ke Sumatera Utara, Senin (22/8/2016). Sekreatariat KabinetPresiden Joko Widodo (Jokowi) mengenakan pakaian adat Batak Toba (Samosir) dalam kunjungan kerja ke Sumatera Utara, Senin (22/8/2016).
|
EditorReska K. Nistanto

JAKARTA, KOMPAS.com - Olok-olok atau ejekan terhadap masyarakat Batak dan Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang diduga diunggah oleh akun Facebook Nunik Wulandari II dan Andi Redani Putribangsa, disebut sebagai bentuk ketidaktahuan budaya. Solusinya pun, sebaiknya tidak harus langsung menempuh jalur hukum.

Pendapat itu diungkap Direktur Eksekutif ICT Watch, Donny B.U. saat dihubungi oleh KompasTekno, Kamis (25/8/2016).

“Kalau dibilang menghina Jokowi, dengan menyebut pakaiannya yang aneh dan segala macam, ya menurut saya, itu bisa berasal dari kebodohan atau ketidaktahuan akan kekayaan dan keberagaman budaya kita,” terangnya.

Meski berasal dari ketidaktahuan, imbuh Donny, bukan berarti bahwa pelaku harus dilepas tanpa hukuman. Mereka tetap harus mendapatkan konsekuensi atas perbuatan itu dalam bentuk yang lebih membangun, tidak dengan cara langsung menempuh jalur hukum.

“Kasih pelajaran mungkin perlu, tapi tidak serampangan juga. Mungkin ada baiknya sebelum menempuh jalur hukum ya dipanggil. Tanyakan maksudnya apa. Kalau ternyata mau mengolok-olok segala macam, sebaiknya ya minta maaf ke publik lewat medium yang dia pakai,” terang Donny.

“(Cara ini) Lebih enak. Publik jadi terdidik bahwa ada jalur lain selain pidana. Lalu apakah akunnya perlu ditutup atau delete, itu soal nanti. Biarkan dia ngomong, kasih tahu salahnya, dan dia minta maaf ke publik. Followers-nya pun jadi tau tindakan itu ada konsekuensinya,” imbuhnya.

Donny tak memungkiri konten yang dimuat dalam akun Facebook Nunik Wulandari II dan Andi Redani Putribangsa rentan terhadap tafsir penghinaan. Hanya saja, jika memang ada unsur penghinaan, maka arahnya adalah Jokowi sebagai pribadi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Kalau melaporkan sebagai pencemaran nama baik atas suatu adat atau golongan ya rasanya tidak pas, karena (akun Facebook) itu mengacu pada individu,” ujarnya.

Donny pun menyarankan agar pengguna media sosial berpikir lebih dahulu sebelum posting.

"Think before posting, karena orang kan mentang-mentang pakai sosial media, gadget, seoalah tidak berhadapan langsung dengan yang bersangkutan. Merasa tidak ada konsekuensi."

Sebelumnya, media sosial sempat ramai karena akun Facebook Nunik Wulandari II dan Andi Redani Putribangsa dilaporkan ke polisi akibat dugaan penghinaan terhadap Presiden Jokowi dan masyarakat Batak.

Kedua akun tersebut, secara spesifik mengunggah foto Presiden Jokowi saat mengenakan pakaian adat Batak Toba (Samosir) dan menyematkan komentar bernada olok-olok atau ejekan. Pakaian tersebut memiliki ciri khas berupa topi dengan rumbai-rumbai benang putih di sisi kanan dan kiri.

Baca juga: Pelajaran dari Kasus Olok-olok Baju Batak Jokowi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.