Instagram Jadi Media "Cyber-Bullying" Nomor 1

Kompas.com - 21/07/2017, 12:52 WIB
Ilustrasi cyber bullying IstIlustrasi cyber bullying
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com - Instagram menjadi media sosial yang paling umum digunakan untuk melakukan perisakan/perundungan di internet, alias cyber-bullying. Setidaknya begitu menurut hasil survei dari lembaga donasi anti-bullying, Ditch The Label.

Cyber-bullyng yang dimaksud dalam hal ini mencakup komentar negatif pada postingan tertentu, pesan personal tak bersahabat, serta menyebarkan postingan atau profil akun media sosial tertentu dengan mengolok-olok. 

Tak kurang dari 10.000 remaja berusia 12 hingga 20 tahun yang berdomisili di Inggris dijadikan sebagai sumber survei. Hasil survei menunjukkan, lebih dari 42 persen korban cyber-bullying mengaku mendapatkannya di Instagram, sebagaimana dilaporkan Mashable dan dihimpun KompasTekno, Jumat (21/7/2017).

Sementara itu, 37 persen korban cyber-bullying mengaku mengalami perisakan/perundungan via Facebook, dan 31 persen di Snapchat. Survey ini menunjukkan pergeseran platform untuk melakukan perundungan.

Baca: Pengguna Instagram Bisa Saring Komentar Kasar

Dulu Facebook dinobatkan sebagai wadah cyber-bullying nomor satu. Sebuah penelitian pada 2013 lalu menunjukkan 87 persen remaja menjadi korban cyber-bullying di Facebook.

Status dan Notes penebar kebencian dan komentar-komentar negatif yang menyertainya sudah menjadi makanan sehari-hari di Facebook.

Nah, pada 2014, posisi Facebook sebagai media sosial paling rentan cyber-bullying masih terjaga, namun persentasenya berkurang. Hanya 39 persen remaja yang mengalami cyber-bullying di Facebook, sementara 22 persen sudah di Instagram.

Instagram sejatinya merupakan platform untuk berbagi konten visual, bukan teks. Meski demikian, komentar-komentar yang merespons konten visual pengguna agaknya banyak yang tergolong sebagai cyber-bullying.

“Saya menyetel akun Instagram dalam mode privasi. Seseorang yang tak saya kenal tiba-tiba memiliki foto saya entah dari mana. Ia mengatakan bakal menaruh (atau mengedit) wajah saya pada foto telanjang jika saya tak angkat teleponnya,” kata seorang remaja 13 tahun ketika diwawancara untuk kebutuhan survei Ditch The Label.

“Saya tetap tak angkat teleponnya. Hingga kini saya tak tahu apakah orang itu benar-benar menyebar wajah saya dengan badan telanjang di internet atau tidak,” ia menambahkan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X