Kompas.com - 11/08/2017, 19:33 WIB
Kamera Large Format Linhoff Technika dan Ebony Yoga Hastyadi Widiartanto/KOMPAS.comKamera Large Format Linhoff Technika dan Ebony
|
EditorReska K. Nistanto

KOMPAS.com - Memotret menggunakan kamera film memiliki prinsip yang sama dengan kamera digital. Kendati demikian, kamera film membutuhkan sikap berbeda dalam setiap tahap pemotretan.

Fotografer profesional Haryanto R. Devcom, saat bincang dengan KompasTekno, mengatakan bahwa jika seseorang sudah terbiasa dengan kamera digital maka sikapnya saat memotret akan cenderung cepat atau terburu-buru.

Nah, jika ingin kembali memotret menggunakan kamera analog, maka hal pertama yang mesti diubah adalah sikap tersebut. Pengguna kamera film mesti menurunkan temponya, berpikir lebih lambat dan menyeluruh, agar pengaturan kamera bisa dilakukan dengan presisi tanpa ada satu perhitungan yang luput.

“Waktu memotret analog, hal pertama yang mesti dilakukan adalah menurunkan tempo memotret. Selama ini kalau orang memotret digital, temponya cenderung cepat karena bisa burst atau ambil foto banyak-banyak lalu pilih salah satu yang paling bagus,” terang Haryanto, yang kerap memotret menggunakan kamera large format itu.

Baca: Apa Beda Hasil Foto Kamera Film dan Digital?

“Analog tidak bisa begitu. Eksposur mesti diperhitungkan dengan baik, dipertimbangkan mana yang mau dibuat gelap, gelap sekali, gelap tapi abu-abu dan lainnya. Setelah itu baru dijepret,” imbuhnya.

Setelah sikap memotret mulai lambat dan memperhatikan keseluruhan perhitungan, maka hal berikutnya yang mesti diperbaiki adalah soal pengukuran cahaya. Ukuran cahaya sebaiknya tepat, karena film yang digunakan memiliki batas. Sekali jepret, film dalam kamera langsung merekam gambar dan tidak bisa lagi diubah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kegagalan dalam kamera film akan berdampak pada terbuangnya film, dan berujung pada pemborosan. Berbeda dengan kamera digital yang semua gambarnya tersimpan dalam kartu memori, tidak bisa dilihat dan pilih tanpa harus menunggu proses cuci cetak.

“Mesti bisa mengukur cahaya, pakai lightmeter dari kamera atau HP juga sudah cukup kalau hanya ingin membuat foto yang hasilnya jelas. Kuncinya adalah lighmeter itu mesti konsisten, sehingga bisa ditebak ukurannya,” terang Haryanto.

“Setelah mulai slow down, mengenal eksposur dan bisa menghasilkan foto yang “kelihatan”, maka baru mulai mendalami berbagai teknik lain. Misalnya mulai mempelajari komposisi, lalu cara memberikan mood dan cerita pada sebuah foto,” imbuhnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.