Menakar Potensi eSport di Indonesia

Kompas.com - 25/10/2017, 08:49 WIB
Seorang anak sedang mencoba bermain game di Game Arena PoseidonWahyunanda Seorang anak sedang mencoba bermain game di Game Arena Poseidon

SOLO, KOMPAS.com - Olahraga elektronik atau eSport kini sedang berkembang pesat di Indonesia. Terbukti dari beberapa tim eSport Indonesia yang berprestasi di kompetisi eSport internasional.

Sebut saja tim Recca eSport, NXL, atau CS:GO yang kerap menyabet juara di turnamen eSport bergengsi, baik skala nasional maupun internasional. Bahkan, salah satu pemain CS:Go asal Indonesia telah direkrut China untuk bermain Counter Strike 2.

"eSport bukan hanya sebuah tren, tapi sudah terbukti prestasinya bagi Indonesia dan ini baru langkah awal", jelas Country Business Nvidia Indonesia, Haryono Kartono pada acara media briefing di Solo, Selasa (24/10/2017).

Harry melanjutkan, eSport adalah olahraga yang terbuka bagi siapa pun. Sebab eSport tidak membutuhkan standar fisik layaknya olahragawan fisik konvensional. Bahkan eSport bisa dimainkan oleh penyandang disabilitas.

Berdasarkan data yang dihimpun KompasTekno dari situs eSport internasioal newzoo.com, Indonesia memiliki 43,7 juta pemain game yang menghabiskan 880 juta dollar AS (sekitar Rp 11 miliar) untuk bermain game.

Baca: “E-Sport”, Hadiah Besar, dan Olimpiade Paris..."

Total ini membuat Indonesa menduduki peringkat ke-16 negara dengan pendapatan dari game terbesar di dunia. Sebesar 56 persen di antaranya merupakan gamer laki-laki yang menggunakan PC/laptop, dengan rentang usia 10-50 tahun. Sementara 44 persen sisanya adalah gamer perempuan dengan usia 10-50 tahun.

Atlet eSport Indonesia terhimpun dalam IeSPA (Indonesia eSport Association) yang saat ini masih menginduk pada organisasi FORMI (Federasi Olahraga Masyarakat Indonesia). IeSPA bertekad mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berprestasi dan disegani dalam bidang eSport di mata internasional.

Dalam mewujudkannya, akan dirancang konsep liga eSport dan kualifikasi dari tingkat klub daerah hingga nasional yang nantinya akan dikirim ke Manila untuk pemusatan pelatihan eSport Asia.

"Ini adalah langkah awal, kita ciptakan dulu infrastrukturnya sebagai tempat berlatih. Baru setelah ada infrastruktur akan muncul komunitas-komuitas gamer di daerah-daerah," ujar Haryono.

Haryono menambahkan, dengan munculnya warnet game iCafe yang bersertifikasi internasional, akan memunculkan pemain game yang profesional dan siap berlaga di kompetisi eSport internasional.

Baca: Nvidia Bangun Warnet Game iCafe Dukung Ekosistem eSport Indonesia

"Saat ini sudah ada 50 iCafe positif yang tersedia. Positif maksudnya memiliki aturan ketat seperti tidak ada perjudian, tidak boleh berseragam sekolah, tidak ada pornografi, dan tidak ada bermain game ketika jam sekolah berlangsung," imbuh Haryono.

Di beberapa negara seperti Amerika dan negara-negara Eropa, atlet eSport merupakan profesi yang menjanjikan. Pemain eSport akan dibayar puluhan juta rupiah untuk bermain game.
Meskipun belum dipertimbangkan sebagai sebuah profesi, namun Indonesia masih patut berbangga hati soal eSport.

Pasalnya, pada Asian Games 2018 nanti, akan diadakan eksibisi eSport pertama kalinya di ajang kompetisi olahraga bergengsi dunia. Nantinya, eSport akan diresmikan sebagai olahraga oleh Olympic Council of Asia pada Asian Games 2022 di Hangzhou, China.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


EditorReska K. Nistanto
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X