kolom

Kode Keras buat Indonesia dari Seruan Global Hapus Akun Facebook

Kompas.com - 21/03/2018, 18:56 WIB
Gambar yang diambil pada 20 November 2017 ini menunjukkan logo Facebook, layanan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat. AFP PHOTO/LOIC VENANCEGambar yang diambil pada 20 November 2017 ini menunjukkan logo Facebook, layanan media sosial yang berbasis di Amerika Serikat.


DELETE
Facebook. Lebih tegas lagi, #deletefacebook yang pakai tanda pagar (tagar) atau hashtag. Artinya dalam bahasa Indonesia sama sih, hapus (akun) Facebook. Terus, ada apa?

Lemparkan frasa itu ke halaman pencarian di browser internet, sepenuh layar gadget atau komputer akan memunculkannya. Frasa itu masih akan terus muncul bahkan setelah lewat halaman 15 hasil pencarian, setidaknya sampai Rabu (21/3/2018) petang.

Tentu, di antara deretan pengguna frasa tersebut adalah layanan pendukung milik Facebook sendiri. Namun, selebihnya adalah hujatan, kecaman, atau paling minimal adalah nada iba yang mencela.

Media mainstream di benua Amerika dan Eropa, termasuk media teknologi dan ekonomi, lengkap menulis sampai ke tata cara menghapus akun Facebook. Tak kurang, dibahas pula perbedaan menghapus dan menonaktifkan akun Facebook, lengkap dengan masing-masing langkah yang perlu dilakukan.

Cuitan “It is time. #deletefacebook” dari co-founder aplikasi Whatsapp Brian Acton,  misalnya, hingga Rabu siang WIB sudah di-retweet lebih dari 2.000 kali, disukai oleh nyaris 5.000 orang, dengan lebih 300 komentar menyambanginya.

(Baca juga: Pendiri WhatsApp Ajak Netizen untuk Hapus Facebook)

Sebagai catatan, Whatsapp adalah aplikasi media sosial yang dibeli Facebook pada 2014. Seusai akuisisi seharga 16 miliar dollar AS—setara sekitar Rp 226,875 triliun dengan kurs Rp 13.750 per dollar AS—itu, Acton memilih hengkang dari Whatsapp.


Cuitan Brian Acton, co-founder aplikasi Whatsapp, soal Facebook, Selasa (20/3/2018)Twitter.com Cuitan Brian Acton, co-founder aplikasi Whatsapp, soal Facebook, Selasa (20/3/2018)

Seolah belum cukup, Facebook juga harus berhadapan dengan otoritas hukum dan politik di benua Amerika dan Eropa. Sudah begitu, nilai sahamnya pun tergerus signifikan sejak Jumat (16/3/2018), yang menurut Bloomberg sampai penutupan perdagangan pada Selasa (20/3/2018) telah mencapai 60 miliar dollar AS atau setara Rp 825 triliun.


Di balik kemenangan Trump

Semua kesesakan yang dirasakan Mark Zuckerberg dan jajaran Facebook tersebut bermula dari dugaan penyalahgunaan data pribadi pemilik akun Facebook untuk pemenangan Donald Trump dalam Pemilu Presiden AS pada 2016. Bagaimana bisa?

Jauh sebelum hari ini, terungkap bahwa kemenangan Trump ditengarai melibatkan campur tangan Rusia. Belum reda isu itu, terungkap bahwa ada algoritma Facebook yang digunakan untuk “menerka” selera pengguna Facebook terkait informasi, yang lalu diduga dipakai memuluskan jalan Trump ke Gedung Putih.

Telisik punya telisik, konsultan pemenangan Trump bekerja sama dengan seorang ilmuwan Rusia kelahiran Amerika Serikat. Ilmuwan ini sebelumnya punya perjanjian dengan Facebook terkait data pengguna media sosial itu. Klaim awalnya, data tersebut untuk tujuan akademis.

Belakangan terungkap, diduga ada sinergi ilmuwan dimaksud dengan konsultan Trump. Perusahaan konsultan tersebut, Cambridge Analityca, diduga telah menyasar 50 juta pengguna Facebook di Amerika Serikat secara ilegal berdasarkan data preferensi agama, politik, dan sosial.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X